Kenapa Trader Bisa Rugi? 10 Kesalahan Pemula yang Harus Dihindari

Kenapa trader bisa rugi padahal sudah belajar analisis saham atau forex? Pertanyaan ini sering muncul di kalangan trader pemula. Banyak orang mulai trading dengan harapan mendapatkan keuntungan, tetapi justru mengalami kerugian karena salah mengambil keputusan, tidak memiliki strategi, atau sulit mengendalikan emosi.

Sebenarnya, kerugian dalam trading tidak selalu terjadi karena seseorang tidak bisa membaca grafik. Trader bisa mengalami kerugian karena membeli aset tanpa analisis, menggunakan modal terlalu besar, tidak membatasi kerugian, hingga terlalu percaya diri setelah mendapatkan keuntungan.

trading loss
Ilustrasi seorang trader mengalami kerugian

Trading saham maupun forex memiliki risiko. Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelaskan bahwa penjualan saham di bawah harga beli dapat menyebabkan capital loss. Karena itu, trader perlu memahami risiko sebelum bertransaksi dan tidak hanya berfokus pada potensi keuntungan.

Dalam artikel ini, kita akan membahas 10 kesalahan trader pemula yang bisa menyebabkan kerugian, lengkap dengan contoh sederhana dan cara menghindarinya.

BSU Rp 900 Ribu Segera Cair Lewat Kantor Pos? Simak Syarat dan Cara Ambil Lewat Pospay

KUHUNI.COM, JAKARTA — Pemerintah kembali menggulirkan program Bantuan Subsidi Upah (BSU) senilai Rp900.000 bagi para pekerja atau buruh dengan gaji di bawah Rp5 juta per bulan. Bantuan langsung tunai (BLT) ini dijadwalkan cair pada kuartal IV (Oktober–Desember) 2026.

Melalui program ini, pemerintah menargetkan 13,3 juta pekerja di seluruh Indonesia. Mengingat penyaluran dilakukan secara sekaligus untuk periode tiga bulan (Oktober, November, dan Desember), maka setiap pekerja yang memenuhi syarat akan langsung menerima total dana sebesar Rp900.000 (Rp300.000 per bulan).

pencairan BSU
Ilustrasi Pencairan BSU

Bagi para pekerja yang tidak memiliki rekening bank Himbara (BRI, BNI, Mandiri, dan BTN), pencairan dana umumnya dilakukan melalui PT Pos Indonesia menggunakan aplikasi Pospay. Dengan aplikasi ini, penerima dapat memunculkan kode QR (QR Code) atau barcode untuk dicairkan langsung di Kantor Pos terdekat.

Berikut adalah panduan lengkap cara mengecek status penerima, memunculkan kode QR di Pospay, hingga alur pencairan dana BSU Rp900.000 di Kantor Pos.

Danamon (BDMN) Raih Laba Bersih Rp3,50 Triliun hingga September 2026, Naik 18,67%

Kuhuni.com, Jakarta — PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,50 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat 18,67% dibandingkan Rp2,95 triliun pada periode yang sama tahun 2025.

Teller Bank Danamon melayani Nasabah. Dok: Danamon.co.id

Dalam laporan keuangan konsolidasian, Bank Danamon mencatat laba bersih sebesar Rp3,89 triliun, meningkat dari Rp3,07 triliun pada periode sebelumnya. Sementara itu, pendapatan bunga neto tumbuh menjadi Rp15,95 triliun dari Rp14,66 triliun.

Dari sisi neraca, total aset perseroan mencapai Rp302,45 triliun per 30 September 2026, meningkat dibandingkan Rp281,74 triliun pada 31 Desember 2025. Total kredit yang diberikan kepada pihak ketiga tercatat Rp180,41 triliun, sedangkan simpanan nasabah pihak ketiga mencapai Rp187,71 triliun.

Harga Emas Masih Sukar Tembus US$ 4.000, Cermati Level Support dan Resisten Hari Ini

KUHUNI.COM, JAKARTA — Harga emas dunia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (3/11) dan masih melanjutkan koreksi tipis pada perdagangan pagi ini, Rabu (4/11). Para investor tampak cenderung menahan diri (wait and see) menantikan kejelasan iklim geopolitik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap pergerakan harga energi global.

Melansir data Bloomberg, harga emas dunia di pasar spot pada Selasa (3/11) ditutup melemah 0,39% ke level US$3.931,7 per troy ons. Tren koreksi berlanjut terbatas pada perdagangan Rabu (4/11) pukul 07.57 WIB, di mana harga sang logam mulia tergerus tipis 0,02% ke posisi US$3.931 per troy ons.

Ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama penahan laju emas. Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan tengah mengkaji proposal draf damai baru dari pihak mediator guna menghindari eskalasi perang total yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu. Kendati demikian, laporan media lokal Iran menyebutkan belum ada kemajuan signifikan dalam perundingan tersebut.

Dinamika ini mendorong kenaikan harga minyak mentah jenis Brent sebesar 1,15% ke level US$104,82 per barel pada pagi ini. Lonjakan harga energi mengancam tingginya laju inflasi global, yang pada gilirannya memperkecil ruang bagi bank-bank sentral dunia untuk memangkas suku bunga acuan. Kondisi suku bunga yang tetap tinggi menjadi sentimen negatif bagi emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset).

Emas batangan. Dok. Bank Sinarmas

Laporan Keuangan ISAT Q3 2026: Laba Bersih Tembus Rp4,92 triliun Triliun Meningkat 37%

Kuhuni.com, Jakarta — PT Indosat Tbk (ISAT) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan selama sembilan bulan pertama 2026. Hingga 30 September 2026, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp45,75 triliun, meningkat 11,15% dibandingkan Rp41,16 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti kenaikan laba periode berjalan sebesar 33,07% menjadi Rp5,12 triliun dari Rp3,84 triliun. Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 37,20% menjadi Rp4,92 triliun, dibandingkan Rp3,59 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

Indosat/ioh.co.id

Pendapatan Selular dan MIDI Menjadi Penopang Pertumbuhan

Pendapatan Indosat terutama ditopang oleh segmen selular yang menghasilkan Rp37,85 triliun selama Januari-September 2026. Angka tersebut meningkat 9,54% dibandingkan Rp34,56 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Segmen Multimedia, Komunikasi Data, Internet (MIDI) mencatat pertumbuhan lebih tinggi. Pendapatan MIDI mencapai Rp7,24 triliun, naik 20,66% dari Rp6,00 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Sementara itu, pendapatan telekomunikasi tetap meningkat 8,64% menjadi Rp656,18 miliar dari Rp603,99 miliar.

Segmen Pendapatan 9M 2026 9M 2025 Pertumbuhan
Selular Rp37,85 triliun Rp34,56 triliun 9,54%
MIDI Rp7,24 triliun Rp6,00 triliun 20,66%
Telekomunikasi tetap Rp656,18 miliar Rp603,99 miliar 8,64%
Total pendapatan Rp45,75 triliun Rp41,16 triliun 11,15%

Secara nominal, segmen selular memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan konsolidasian. Adapun MIDI menjadi segmen dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di antara tiga kelompok pendapatan yang dilaporkan Indosat.

Laba Bersih Meningkat 33,07%

Dari sisi profitabilitas, Indosat membukukan laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp6,46 triliun, meningkat 36,16% dibandingkan Rp4,75 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan Rp1,35 triliun, laba periode berjalan tercatat Rp5,12 triliun.

Laba periode berjalan tersebut tumbuh 33,07% dibandingkan Rp3,84 triliun pada Januari-September 2025. Dari total laba, sebesar Rp4,92 triliun diatribusikan kepada pemilik entitas induk, sedangkan Rp193,37 miliar merupakan bagian kepentingan non-pengendali.

Laba per saham dasar dan dilusian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat menjadi Rp152,61 per saham dari Rp111,23 per saham pada periode pembanding. Kenaikannya mencapai 37,20%.

Indikator 9M 2026 9M 2025 Perubahan
Pendapatan Rp45,75 triliun Rp41,16 triliun +11,15%
Laba sebelum pajak Rp6,46 triliun Rp4,75 triliun +36,16%
Laba periode berjalan Rp5,12 triliun Rp3,84 triliun +33,07%
Laba diatribusikan kepada pemilik induk Rp4,92 triliun Rp3,59 triliun +37,20%
Laba per saham Rp152,61 Rp111,23 +37,20%

Margin laba periode berjalan terhadap pendapatan turut meningkat menjadi sekitar 11,18%, dibandingkan 9,34% pada periode sembilan bulan pertama 2025. Hal ini menunjukkan pertumbuhan laba bersih lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan.

Beban Penyelenggaraan Jasa dan Karyawan Meningkat

Seiring pertumbuhan pendapatan, sejumlah komponen beban Indosat juga mengalami kenaikan. Beban penyelenggaraan jasa menjadi komponen terbesar, mencapai Rp19,45 triliun atau meningkat 10,51% dibandingkan Rp17,60 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban penyusutan dan amortisasi naik 6,67% menjadi Rp12,68 triliun dari Rp11,89 triliun. Beban karyawan juga meningkat cukup tinggi, yakni 42,22% menjadi Rp3,30 triliun dari Rp2,32 triliun.

Sementara itu, beban pemasaran bertambah 7,70% menjadi Rp1,30 triliun. Berbeda dengan beberapa komponen tersebut, beban umum dan administrasi turun 4,94% menjadi Rp653,00 miliar dari Rp686,93 miliar.

Komponen Beban 9M 2026 9M 2025 Perubahan
Penyelenggaraan jasa Rp19,45 triliun Rp17,60 triliun +10,51%
Penyusutan dan amortisasi Rp12,68 triliun Rp11,89 triliun +6,67%
Karyawan Rp3,30 triliun Rp2,32 triliun +42,22%
Pemasaran Rp1,30 triliun Rp1,21 triliun +7,70%
Umum dan administrasi Rp653,00 miliar Rp686,93 miliar -4,94%

Total beban yang tercatat dalam laporan laba rugi meningkat 7,78% menjadi Rp35,91 triliun dari Rp33,32 triliun. Di sisi lain, Indosat mencatat keuntungan bersih Rp1,51 triliun yang berkaitan dengan hilangnya pengendalian atas entitas anak dan transaksi sewa balik. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pos tersebut tidak tercatat.

Biaya keuangan meningkat menjadi Rp3,75 triliun dari Rp3,23 triliun, atau naik sekitar 15,87%. Kenaikan biaya keuangan ini menjadi salah satu komponen yang turut membentuk hasil laba sebelum pajak perusahaan.

Total Aset Indosat Naik Menjadi Rp147,64 Triliun

Pada sisi neraca, total aset Indosat per 30 September 2026 mencapai Rp147,64 triliun. Jumlah tersebut meningkat 24,45% dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp118,63 triliun.

Kenaikan terutama berasal dari aset tidak lancar yang bertambah 29,11% menjadi Rp128,63 triliun dari Rp99,63 triliun. Aset tetap meningkat menjadi Rp99,18 triliun dari Rp75,10 triliun, sedangkan investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama naik menjadi Rp3,03 triliun dari Rp1,04 triliun.

Kas dan setara kas juga meningkat signifikan menjadi Rp8,21 triliun dari Rp5,08 triliun pada akhir 2025. Sementara itu, total aset lancar relatif stabil di Rp19,01 triliun, dibandingkan Rp19,00 triliun pada posisi akhir tahun sebelumnya.

Posisi Keuangan 30 Sep 2026 31 Des 2025 Perubahan
Total aset Rp147,64 triliun Rp118,63 triliun +24,45%
Aset lancar Rp19,01 triliun Rp19,00 triliun +0,04%
Aset tidak lancar Rp128,63 triliun Rp99,63 triliun +29,11%
Aset tetap Rp99,18 triliun Rp75,10 triliun +32,07%
Kas dan setara kas Rp8,21 triliun Rp5,08 triliun +61,80%

Liabilitas Meningkat 35,05%

Sejalan dengan kenaikan aset, total liabilitas Indosat meningkat menjadi Rp106,85 triliun per 30 September 2026 dari Rp79,12 triliun pada akhir Desember 2025. Kenaikan tersebut mencapai 35,05%.

Liabilitas jangka pendek tercatat Rp50,89 triliun, meningkat 66,86% dari Rp30,50 triliun. Salah satu pos yang mengalami kenaikan besar adalah utang pengadaan jangka pendek, dari Rp8,85 triliun menjadi Rp20,46 triliun.

Pinjaman jangka pendek yang pada akhir 2025 belum tercatat, per September 2026 mencapai Rp7,55 triliun. Utang pajak penghasilan juga meningkat menjadi Rp2,53 triliun dari Rp370,31 miliar.

Liabilitas jangka panjang naik 15,09% menjadi Rp55,96 triliun dari Rp48,62 triliun. Di dalamnya, liabilitas sewa jangka panjang mencapai Rp43,43 triliun, meningkat dari Rp33,10 triliun pada akhir tahun sebelumnya.

Sementara itu, total ekuitas Indosat tumbuh 3,25% menjadi Rp40,79 triliun dari Rp39,51 triliun. Saldo laba belum dicadangkan meningkat menjadi Rp18,61 triliun dari Rp17,26 triliun.

Komponen 30 Sep 2026 31 Des 2025 Perubahan
Total liabilitas Rp106,85 triliun Rp79,12 triliun +35,05%
Liabilitas jangka pendek Rp50,89 triliun Rp30,50 triliun +66,86%
Liabilitas jangka panjang Rp55,96 triliun Rp48,62 triliun +15,09%
Total ekuitas Rp40,79 triliun Rp39,51 triliun +3,25%

Arus Kas Operasi Turun, Belanja Modal Meningkat

Dari sisi arus kas, Indosat memperoleh arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp14,19 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Nilai tersebut turun 9,72% dibandingkan Rp15,72 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penerimaan kas dari pelanggan meningkat menjadi Rp44,34 triliun dari Rp40,15 triliun. Namun, pengeluaran kepada regulator, operator lain, pemasok, dan pihak lainnya juga naik menjadi Rp22,56 triliun dari Rp17,82 triliun. Pembayaran biaya keuangan meningkat menjadi Rp3,60 triliun dari Rp3,24 triliun.

Arus kas investasi mencatat penggunaan kas bersih Rp15,29 triliun, lebih besar dibandingkan Rp10,04 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Salah satu faktor utamanya adalah kenaikan belanja perolehan aset tetap menjadi Rp16,96 triliun dari Rp10,25 triliun, atau meningkat 65,41%.

Pengeluaran untuk perolehan aset takberwujud juga meningkat menjadi Rp379,83 miliar dari Rp29,42 miliar. Pada periode berjalan, Indosat turut mencatat penerimaan Rp1,90 triliun dari penjualan kepemilikan di entitas anak dan transaksi sewa balik atas bagian aset yang dialihkan.

Berbeda dengan arus kas operasi dan investasi, aktivitas pendanaan menghasilkan arus kas bersih positif Rp4,13 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, aktivitas pendanaan justru menggunakan kas bersih Rp7,72 triliun.

Baca Laporan Keuangan Emiten

  1. Laba Bersih DMAS Meroket 184% Per September 2026
  2. Laporan Keuangan PJAA September 2026: Laba Bersih Rp25,30 Miliar, Turun 56,52%
  3. Laba AKRA Naik 32% Jadi Rp2,44 Triliun hingga September 2026
  4. Laba BTPS Naik 7% Jadi Rp1,01 Triliun hingga September 2026
  5. Clipan Finance Cetak Laba Rp153,65 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Masih Tertekan
  6. IPCC Catat Pendapatan Rp645,48 Miliar hingga September 2026, Laba Bersih Turun 6,89%
  7. Sunter Lakeside Hotel (SNLK) Catat Pendapatan Rp32,82 Miliar hingga September 2026, Rugi Menyusut 39,36%
  8. Laporan Keuangan Bank Mandiri (BMRI) per September 2026, Laba Naik 13,86% Jadi Rp47,11 Triliun
  9. Bank Aladin Syariah (BANK) Catat Laba Bersih Rp47,26 Miliar hingga September 2026, Turun 63,10%
  10. Bukalapak (BUKA) Catat Rugi Rp881,06 Miliar hingga September 2026
  11. Laporan Keuangan Vale Indonesia (INCO) per September 2026, Laba US$147,12 Juta  Melonjak 180,57%
  12. Laporan Keuangan Telkom Indonesia (TLKM) Q3 2026: Pendapatan Naik Jadi Rp113,50 Triliun namun Laba Bersih Turun

Penerimaan pendanaan pada 2026 antara lain berasal dari transaksi penjualan kepemilikan entitas anak dan sewa balik atas bagian aset yang dipertahankan sebesar Rp9,79 triliun, penerimaan pinjaman jangka pendek Rp7,40 triliun, serta pinjaman jangka panjang Rp3,35 triliun. Di sisi pengeluaran, perusahaan membayar dividen kepada pemegang saham sebesar Rp3,58 triliun.

Arus Kas 9M 2026 9M 2025 Keterangan
Aktivitas operasi Rp14,19 triliun Rp15,72 triliun Turun 9,72%
Aktivitas investasi (Rp15,29 triliun) (Rp10,04 triliun) Penggunaan kas naik 52,29%
Aktivitas pendanaan Rp4,13 triliun (Rp7,72 triliun) Berbalik positif
Kenaikan (penurunan) bersih kas Rp3,14 triliun (Rp2,03 triliun) Berbalik positif

Kas dan Setara Kas Mencapai Rp8,21 Triliun

Secara keseluruhan, Indosat mencatat kenaikan bersih kas dan setara kas sebesar Rp3,14 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut berbalik dari penurunan bersih Rp2,03 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan tambahan dampak selisih kurs sebesar Rp108,20 miliar, kas dan setara kas Indosat pada akhir September 2026 mencapai Rp8,21 triliun. Posisi tersebut meningkat dari Rp5,08 triliun pada awal periode atau akhir Desember 2025.

Secara keseluruhan, kinerja Indosat hingga September 2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang solid. Pendapatan meningkat 11,15%, sementara laba periode berjalan tumbuh 33,07% dan laba per saham naik 37,20%. Pada saat yang sama, total aset bertambah menjadi Rp147,64 triliun dan kas akhir periode mencapai Rp8,21 triliun. Perkembangan tersebut berjalan beriringan dengan kenaikan liabilitas serta belanja modal yang lebih besar dibandingkan periode sebelumnya.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan rekomendasi atau perintah untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Kuhuni.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

Laporan Keuangan Telkom Indonesia (TLKM) Q3 2026: Pendapatan Naik Jadi Rp113,50 Triliun namun Laba Bersih Turun

Kuhuni.com, Jakarta — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membukukan pendapatan sebesar Rp113,50 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan tersebut meningkat 3,54% dibandingkan Rp109,62 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski pendapatan tumbuh, laba periode berjalan Telkom tercatat Rp19,46 triliun, turun 1,91% dibandingkan Rp19,84 triliun pada Januari–September 2025. Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun menjadi Rp14,45 triliun dari Rp15,03 triliun.

Dari sisi operasional, Telkom mencatat laba usaha Rp28 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp28,24 triliun pada periode sebelumnya. Sementara itu, total aset perseroan per 30 September 2026 tercatat Rp279,81 triliun, turun dari Rp287,76 triliun pada akhir Desember 2025.

Ilustrasi Kinerja Telkom Indonesia. Foto Mediasaham.com

Pendapatan Telkom Tumbuh 3,54%

Pendapatan Telkom mencapai Rp113,50 triliun hingga September 2026, bertambah Rp3,89 triliun dibandingkan Rp109,62 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan pendapatan diikuti peningkatan beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi menjadi Rp32,09 triliun dari Rp30,28 triliun. Beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp5,96 triliun dibandingkan Rp5 triliun pada Januari–September 2025.

Di sisi lain, beban penyusutan dan amortisasi turun menjadi Rp25,77 triliun dari Rp26 triliun. Beban karyawan juga menurun menjadi Rp11,68 triliun dibandingkan Rp11,90 triliun pada periode sebelumnya.

Pos Keuangan Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Pendapatan Rp113,50 triliun Rp109,62 triliun +3,54%
Beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi Rp32,09 triliun Rp30,28 triliun +5,96%
Beban penyusutan dan amortisasi Rp25,77 triliun Rp26,00 triliun -0,87%
Beban karyawan Rp11,68 triliun Rp11,90 triliun -1,87%
Beban umum dan administrasi Rp5,96 triliun Rp5,00 triliun +19,15%
Beban interkoneksi Rp5,74 triliun Rp5,66 triliun +1,43%
Beban pemasaran Rp2,54 triliun Rp2,38 triliun +6,94%
Laba usaha Rp28,00 triliun Rp28,24 triliun -0,87%

Laba Bersih Telkom Turun Menjadi Rp19,46 Triliun

Telkom mencatat laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp25,73 triliun hingga September 2026, meningkat 0,91% dibandingkan Rp25,49 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penghasilan pendanaan neto tercatat Rp1,19 triliun, turun dibandingkan Rp1,29 triliun. Sementara itu, biaya pendanaan turun menjadi Rp3,46 triliun dari Rp4,03 triliun pada periode Januari–September 2025.

Salah satu pos yang mengalami kenaikan cukup besar adalah kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar atas investasi. Nilainya mencapai Rp1,66 triliun, dibandingkan Rp360 miliar pada periode sebelumnya.

Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar Rp6,26 triliun, laba periode berjalan Telkom mencapai Rp19,46 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Rp19,84 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

Indikator Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Laba usaha Rp27,999 triliun Rp28,244 triliun -0,87%
Laba sebelum pajak Rp25,726 triliun Rp25,493 triliun +0,91%
Beban pajak penghasilan Rp6,264 triliun Rp5,651 triliun +10,85%
Laba periode berjalan Rp19,462 triliun Rp19,842 triliun -1,91%
Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp14,446 triliun Rp15,031 triliun -3,89%
Laba yang diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali Rp5,016 triliun Rp4,811 triliun +4,26%

Laba per Saham Turun Menjadi Rp146,31

Penurunan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turut tercermin pada laba per saham Telkom. Laba bersih per saham dasar tercatat Rp146,31 hingga September 2026, turun 3,57% dibandingkan Rp151,73 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba komprehensif periode berjalan mencapai Rp20,50 triliun, meningkat dibandingkan Rp20,16 triliun pada Januari–September 2025. Penghasilan komprehensif lain bersih tercatat Rp1,04 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp313 miliar pada periode sebelumnya.

Total Aset Telkom Turun Menjadi Rp279,81 Triliun

Per 30 September 2026, Telkom membukukan total aset sebesar Rp279,81 triliun, turun 2,76% dibandingkan Rp287,76 triliun pada 31 Desember 2025.

Aset lancar tercatat Rp60,93 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp61,77 triliun pada akhir 2025. Kas dan setara kas mencapai Rp33,63 triliun, turun dari Rp34,23 triliun.

Piutang usaha pihak ketiga meningkat menjadi Rp10,36 triliun dari Rp9,18 triliun. Piutang usaha pihak berelasi tercatat Rp1,87 triliun, turun dibandingkan Rp2,04 triliun pada akhir tahun sebelumnya.

Di sisi aset tidak lancar, nilai aset tetap turun menjadi Rp159,60 triliun dari Rp165,45 triliun. Sebaliknya, aset hak-guna meningkat menjadi Rp28,72 triliun dari Rp27,96 triliun.

Pos Aset 30 September 2026 31 Desember 2025 Perubahan
Kas dan setara kas Rp33,63 triliun Rp34,23 triliun -1,76%
Piutang usaha pihak ketiga Rp10,36 triliun Rp9,18 triliun +12,82%
Aset lancar Rp60,93 triliun Rp61,77 triliun -1,35%
Investasi jangka panjang Rp5,41 triliun Rp7,39 triliun -26,77%
Aset tetap Rp159,60 triliun Rp165,45 triliun -3,54%
Aset hak-guna Rp28,72 triliun Rp27,96 triliun +2,73%
Aset tidak lancar Rp218,88 triliun Rp225,99 triliun -3,15%
Total aset Rp279,81 triliun Rp287,76 triliun -2,76%

Liabilitas Meningkat, Ekuitas Turun Menjadi Rp140,46 Triliun

Total liabilitas Telkom per 30 September 2026 mencapai Rp139,35 triliun, naik 1,55% dibandingkan Rp137,22 triliun pada 31 Desember 2025.

Liabilitas jangka pendek meningkat menjadi Rp75,25 triliun dari Rp73,95 triliun. Pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun naik menjadi Rp21,68 triliun dibandingkan Rp17,75 triliun pada akhir 2025. Utang pajak juga meningkat menjadi Rp3,44 triliun dari Rp2,03 triliun.

Liabilitas jangka panjang tercatat Rp64,10 triliun, naik dari Rp63,27 triliun. Pinjaman jangka panjang mencapai Rp26,56 triliun, sedangkan liabilitas sewa tercatat Rp17,93 triliun.

Sementara itu, total ekuitas turun menjadi Rp140,46 triliun dari Rp150,54 triliun. Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp122,30 triliun, sedangkan kepentingan nonpengendali sebesar Rp18,17 triliun.

Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya turun menjadi Rp90,62 triliun dari Rp97,86 triliun. Selain itu, modal saham yang diperoleh kembali meningkat menjadi Rp1,78 triliun dari Rp30 miliar pada akhir 2025.

Pos Liabilitas dan Ekuitas 30 September 2026 31 Desember 2025 Perubahan
Liabilitas jangka pendek Rp75,25 triliun Rp73,95 triliun +1,76%
Liabilitas jangka panjang Rp64,10 triliun Rp63,27 triliun +1,31%
Total liabilitas Rp139,35 triliun Rp137,22 triliun +1,55%
Ekuitas pemilik entitas induk Rp122,30 triliun Rp130,69 triliun -6,42%
Kepentingan nonpengendali Rp18,17 triliun Rp19,85 triliun -8,49%
Total ekuitas Rp140,46 triliun Rp150,54 triliun -6,69%

Arus Kas Operasi Mencapai Rp48 Triliun

Telkom menghasilkan arus kas bersih dari kegiatan operasi sebesar Rp48,01 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Nilai tersebut turun 3,22% dibandingkan Rp49,61 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penerimaan kas dari pelanggan dan operator lain mencapai Rp110,73 triliun, meningkat dibandingkan Rp108,54 triliun pada Januari–September 2025. Penerimaan restitusi pajak juga naik menjadi Rp1,05 triliun dari Rp934 miliar.

Di sisi pengeluaran, pembayaran kas untuk beban meningkat menjadi Rp38,06 triliun dari Rp35,92 triliun. Pembayaran kas kepada karyawan juga naik menjadi Rp14,09 triliun dibandingkan Rp11,49 triliun pada periode sebelumnya.

Untuk aktivitas investasi, Telkom mencatat arus kas keluar bersih Rp16,67 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp18,55 triliun pada Januari–September 2025. Pembelian aset tetap mencapai Rp14,64 triliun, sedangkan pembelian aset takberwujud sebesar Rp2,21 triliun.

Aktivitas pendanaan mencatat arus kas keluar bersih Rp32,53 triliun. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan Rp33,71 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pembayaran dividen kas kepada pemegang saham perusahaan mencapai Rp22 triliun, meningkat dari Rp21,05 triliun.

Arus Kas Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Arus kas bersih dari kegiatan operasi Rp48,01 triliun Rp49,61 triliun -3,22%
Arus kas bersih untuk kegiatan investasi (Rp16,67 triliun) (Rp18,55 triliun) Arus keluar turun 10,13%
Arus kas bersih untuk kegiatan pendanaan (Rp32,53 triliun) (Rp33,71 triliun) Arus keluar turun 3,50%
Penurunan bersih kas dan setara kas Rp1,20 triliun Rp2,66 triliun Penurunan menyusut 55,04%
Kas dan setara kas akhir periode Rp33,63 triliun Rp31,55 triliun +6,57%

Arus kas pendanaan juga mencakup pencairan utang bank dan pinjaman lainnya sebesar Rp45,88 triliun serta pembayaran pinjaman Rp41,21 triliun. Selain itu, Telkom melakukan pembayaran liabilitas sewa Rp6,61 triliun dan pembelian kembali saham perusahaan sebesar Rp1,75 triliun.

Secara keseluruhan, kas dan setara kas Telkom pada akhir September 2026 tercatat Rp33,63 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Rp31,55 triliun pada akhir September 2025, meskipun selama periode sembilan bulan 2026 perseroan membukukan penurunan bersih kas dan setara kas Rp1,20 triliun.

Baca Laporan Keuangan Emiten

  1. Laba Bersih DMAS Meroket 184% Per September 2026
  2. Laporan Keuangan PJAA September 2026: Laba Bersih Rp25,30 Miliar, Turun 56,52%
  3. Laba AKRA Naik 32% Jadi Rp2,44 Triliun hingga September 2026
  4. Laba BTPS Naik 7% Jadi Rp1,01 Triliun hingga September 2026
  5. Clipan Finance Cetak Laba Rp153,65 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Masih Tertekan
  6. IPCC Catat Pendapatan Rp645,48 Miliar hingga September 2026, Laba Bersih Turun 6,89%
  7. Sunter Lakeside Hotel (SNLK) Catat Pendapatan Rp32,82 Miliar hingga September 2026, Rugi Menyusut 39,36%
  8. Laporan Keuangan Bank Mandiri (BMRI) per September 2026, Laba Naik 13,86% Jadi Rp47,11 Triliun
  9. Bank Aladin Syariah (BANK) Catat Laba Bersih Rp47,26 Miliar hingga September 2026, Turun 63,10%
  10. Bukalapak (BUKA) Catat Rugi Rp881,06 Miliar hingga September 2026
  11. Laporan Keuangan Vale Indonesia (INCO) per September 2026, Laba US$147,12 Juta  Melonjak 180,57%
  12. Laporan Keuangan Telkom Indonesia (TLKM) Q3 2026: Pendapatan Naik Jadi Rp113,50 Triliun namun Laba Bersih Turun

Kesimpulan Kinerja Telkom Indonesia hingga September 2026

Kinerja Telkom Indonesia hingga September 2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan sebesar 3,54% menjadi Rp113,50 triliun. Namun, laba periode berjalan turun 1,91% menjadi Rp19,46 triliun, sedangkan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 3,89% menjadi Rp14,45 triliun.

Dari sisi neraca, total aset turun menjadi Rp279,81 triliun dan total ekuitas menyusut menjadi Rp140,46 triliun. Sementara itu, total liabilitas meningkat menjadi Rp139,35 triliun. Arus kas operasi mencapai Rp48,01 triliun, sedangkan kas dan setara kas pada akhir September 2026 tercatat Rp33,63 triliun.

Perkembangan pendapatan, biaya operasional, laba bersih, belanja aset, pembayaran dividen, serta posisi liabilitas menjadi sejumlah komponen penting dalam membaca kinerja keuangan Telkom pada sembilan bulan pertama 2026.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan rekomendasi atau perintah untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Kuhuni.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

Rangkuman IHSG (03/11/2026): IHSG Anjlok 3,78% ke 4.904, Asing Net Sell Rp575 Miliar, BBRI dan BBCA Tertekan

Kuhuni.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa, 3 November 2026. IHSG ditutup anjlok 3,78% atau turun 192,543 poin ke level 4.904,287.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka dari posisi sebelumnya di 5.096,830. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.143,582, tetapi kemudian merosot hingga level terendah 4.895,596 sebelum ditutup di 4.904,287.

Gedung Bursa Efek Indonesia. Dok. Kuhuni.com

Penurunan tersebut menunjukkan tekanan jual yang cukup luas di pasar saham Indonesia. Dari sisi jumlah saham, sebanyak 596 saham atau 62% saham tercatat mengalami kenaikan lebih dari 2%, 121 saham atau 13% naik antara 0% hingga 2%, sementara 177 saham atau 18% berada dalam kondisi stabil.

Di sisi lain, 33 saham atau 3% mengalami penurunan antara 0% hingga 2%, sedangkan 36 saham atau 4% turun lebih dari 2%.

Incar Valuasi Rp31,76 Kuadriliun, Pengembang AI Anthropic Bersiap Gelar IPO Terbesar

Kuhuni.com — Perusahaan riset kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pengembang chatbot Claude, Anthropic PBC, semakin mantap melangkah menuju penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) yang berpotensi memecahkan rekor dunia. Di tengah persiapan aksi korporasi besar ini, Anthropic mengungkapkan komitmen belanja fantastis yang mencapai lebih dari US$ 895 miliar untuk beberapa tahun mendatang.

Melansir dari Bloomberg, berdasarkan amandemen prospektus yang disampaikan kepada U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) pada Senin lalu, Anthropic mencatatkan lonjakan pendapatan kuartal III yang sangat signifikan. Pendapatan perusahaan melonjak lebih dari 12 kali lipat menjadi hampir US$ 17 miliar per 30 September, dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 1,4 miliar.

Ilustrasi IPO Terbesar di dunia. Kuhuni.com

Anthropic telah resmi mendaftarkan berkas IPO pada 26 Oktober lalu dan menargetkan peluncuran saham di bursa sebelum libur Thanksgiving di Amerika Serikat pada akhir bulan ini. Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, Anthropic berambisi menyamai atau bahkan melampaui raksasa aerospace SpaceX yang sebelumnya meraup dana IPO sebesar US$ 86,2 miliar.

Saham Anthropic direncanakan bakal diperdagangkan di bursa Nasdaq Global Select Market dengan kode emiten ANT. Aksi korporasi ini dipimpin oleh raksasa perbankan investasi Goldman Sachs Group Inc. dan Morgan Stanley, bersama 20 bank penjamin emisi (underwriter) lainnya.

Beban Infrastruktur dan Komputasi Membengkak

Dokumen prospektus terbaru menunjukkan ambisi besar Anthropic untuk terus memimpin persaingan AI, sekaligus menjawab kekhawatiran Wall Street terkait melambatnya laju pertumbuhan pendapatan akibat pembengkakan biaya teknologi.

Hampir seluruh komitmen belanja Anthropic sebesar US$ 895 miliar dialokasikan untuk membiayai infrastruktur dan kapasitas komputasi (computing-power costs). Dari total komitmen tersebut, sekitar US$ 448 miliar akan direalisasikan sebelum akhir tahun 2030, di mana sekitar US$ 70 miliar di antaranya jatuh tempo dalam kurun waktu satu tahun hingga September 2027. Bahkan sejak 30 September lalu, komitmen belanja perusahaan telah bertambah lagi sekitar US$ 100 miliar.

Di sisi bottom line, Anthropic membukukan kerugian bersih (net loss) sebesar US$ 23,3 miliar pada kuartal III, membengkak dari kerugian US$ 12,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar kerugian tersebut (US$ 21,9 miliar) disebabkan oleh penyesuaian nilai wajar (fair value) atas obligasi konversi dan efek lainnya seiring dengan melesatnya valuasi perusahaan.

Sementara itu, beban operasional melonjak 292% secara tahunan menjadi US$ 17,5 billion. Setelah sempat mencetak laba operasional sebesar US$ 974 juta pada kuartal II, kinerja operasional Anthropic kembali berbalik rugi (operating loss) sebesar US$ 567 juta pada kuartal III. Kerugian operasional ini terutama dipicu oleh biaya komputasi komitmen jangka pendek sebesar US$ 5 miliar serta beban non-kas sebesar US$ 2 miliar untuk program charitable donation-matching.

Perang Harga dan Target Valuasi US$ 1,75 Triliun

Teknologi AI yang makin kompetitif mulai menekan tingkat margin pendapatan Anthropic. Peluncuran model baru dengan harga lebih murah seperti Opus 5.5 pada September lalu, ditambah pemberian diskon kontraktual bagi sejumlah pelanggan besar, telah menggerus potensi pertumbuhan pendapatan kuartal III sekitar US$ 600 juta.

Baca: Kantongi Pendapatan US$ 33,24 Miliar, Anthropic Perbarui Dokumen IPO di Tengah Kerugian Fantastis

Langkah pemotongan harga ini tak terelakkan lantaran pesaing utamanya, OpenAI, juga meluncurkan model berbiaya rendah. Di saat yang sama, pengembang AI global—termasuk pengembang asal Tiongkok—gencar merilis model open-weight berbiaya murah yang dapat diunduh dan disesuaikan sendiri oleh konsumen.

Meski demikian, minat investor terhadap saham IPO Anthropic tetap sangat tinggi. Sejumlah investor mengindikasikan kepada para perbankan investasi bahwa perkiraan valuasi wajar Anthropic kini berada di kisaran US$ 1,4 triliun hingga US$ 1,5 triliun, dengan potensi batas atas mencapai US$ 1,75 triliun setara Rp31,76 kuadriliun (atau Rp31.750 triliun)..

Marak Pendanaan Kolosal Sektor AI

Kebutuhan dana dalam jumlah raksasa untuk membiayai infrastruktur AI telah memicu gelombang pencarian modal berskala besar di industri teknologi global.

Selain rencana IPO Anthropic, raksasa media sosial Meta Platforms Inc. pada 26 Oktober lalu mulai menggalang dana ekuitas hingga US$ 98 miliar—salah satu pencarian dana terbesar dalam sejarah bisnis teknologi. Langkah ini menyusul raksasa Alphabet Inc. (induk usaha Google) yang lebih dulu mengumumkan rencana penggalangan dana ekuitas sebesar US$ 85 miliar.

Baca: Daftar Harga iPhone Terbaru November 2026 di iBox: iPhone 18 Pro & iPhone Duo Resmi Hadir!

Tak ketinggalan, Oracle Corp. juga mengumumkan rencana penggalangan dana sebesar US$ 20 miliar, yang mencakup penjualan saham senilai US$ 10 miliar.

Langkah IPO Anthropic akan menjadi tonggak sejarah baru sebagai perusahaan pengembang model AI paling maju (frontier AI) pertama yang melantai di bursa publik. Sementara pesaing utamanya, OpenAI, masih berupaya menggalang dana puluhan miliar dolar melalui pendanaan privat setelah menunda rencana IPO hingga tahun depan.

Serial Belajar Saham:

  1. Apa Itu Trading? Pengertian Trading untuk Pemula
  2. Manajemen Risiko dalam Trading: Panduan Lengkap untuk Pemula
  3. Apa Itu Trading Saham? Pengertian, Cara Kerja dan Contohnya untuk Pemula
  4. Cara Menjual Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  5. 20 Istilah Penting Dalam Saham yang Wajib Diketahui Pemula
  6. Panduan Lengkap Investasi Saham untuk Pemula
  7. Cara Trading Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  8. Cara Main Saham Modal Kecil: Mulai Rp100 Ribu, Rp500 Ribu, atau Rp1 Juta
  9. 25 Aplikasi Trading Terpercaya dan Resmi di Indonesia yang Terdaftar OJK dan BEI
  10. Daftar Kode Broker Asing dan Lokal di Indonesia: Resmi Terdaftar di BEI dan OJK
  11. 12 Teknik Scalping Saham Paling Efektif untuk Dapat Cuan
  12. Analisis Teknikal untuk Pemula: Cara Membaca Grafik Saham dari Nol
  13. Cara Membaca Grafik Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  14. Apa Itu Support dan Resistance? Pengertian, Cara Menentukan dan Contohnya
  15. Cara Membaca Candlestick Saham: Panduan Lengkap untuk Pemula

Terbaru

      Konten Pilihan