Laporan Keuangan Telkom Indonesia (TLKM) Q3 2026: Pendapatan Naik Jadi Rp113,50 Triliun namun Laba Bersih Turun

Kuhuni.com, Jakarta — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membukukan pendapatan sebesar Rp113,50 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan tersebut meningkat 3,54% dibandingkan Rp109,62 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski pendapatan tumbuh, laba periode berjalan Telkom tercatat Rp19,46 triliun, turun 1,91% dibandingkan Rp19,84 triliun pada Januari–September 2025. Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun menjadi Rp14,45 triliun dari Rp15,03 triliun.

Dari sisi operasional, Telkom mencatat laba usaha Rp28 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp28,24 triliun pada periode sebelumnya. Sementara itu, total aset perseroan per 30 September 2026 tercatat Rp279,81 triliun, turun dari Rp287,76 triliun pada akhir Desember 2025.

Ilustrasi Kinerja Telkom Indonesia. Foto Mediasaham.com

Pendapatan Telkom Tumbuh 3,54%

Pendapatan Telkom mencapai Rp113,50 triliun hingga September 2026, bertambah Rp3,89 triliun dibandingkan Rp109,62 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan pendapatan diikuti peningkatan beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi menjadi Rp32,09 triliun dari Rp30,28 triliun. Beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp5,96 triliun dibandingkan Rp5 triliun pada Januari–September 2025.

Di sisi lain, beban penyusutan dan amortisasi turun menjadi Rp25,77 triliun dari Rp26 triliun. Beban karyawan juga menurun menjadi Rp11,68 triliun dibandingkan Rp11,90 triliun pada periode sebelumnya.

Pos Keuangan Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Pendapatan Rp113,50 triliun Rp109,62 triliun +3,54%
Beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi Rp32,09 triliun Rp30,28 triliun +5,96%
Beban penyusutan dan amortisasi Rp25,77 triliun Rp26,00 triliun -0,87%
Beban karyawan Rp11,68 triliun Rp11,90 triliun -1,87%
Beban umum dan administrasi Rp5,96 triliun Rp5,00 triliun +19,15%
Beban interkoneksi Rp5,74 triliun Rp5,66 triliun +1,43%
Beban pemasaran Rp2,54 triliun Rp2,38 triliun +6,94%
Laba usaha Rp28,00 triliun Rp28,24 triliun -0,87%

Laba Bersih Telkom Turun Menjadi Rp19,46 Triliun

Telkom mencatat laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp25,73 triliun hingga September 2026, meningkat 0,91% dibandingkan Rp25,49 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penghasilan pendanaan neto tercatat Rp1,19 triliun, turun dibandingkan Rp1,29 triliun. Sementara itu, biaya pendanaan turun menjadi Rp3,46 triliun dari Rp4,03 triliun pada periode Januari–September 2025.

Salah satu pos yang mengalami kenaikan cukup besar adalah kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar atas investasi. Nilainya mencapai Rp1,66 triliun, dibandingkan Rp360 miliar pada periode sebelumnya.

Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar Rp6,26 triliun, laba periode berjalan Telkom mencapai Rp19,46 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Rp19,84 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

Indikator Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Laba usaha Rp27,999 triliun Rp28,244 triliun -0,87%
Laba sebelum pajak Rp25,726 triliun Rp25,493 triliun +0,91%
Beban pajak penghasilan Rp6,264 triliun Rp5,651 triliun +10,85%
Laba periode berjalan Rp19,462 triliun Rp19,842 triliun -1,91%
Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp14,446 triliun Rp15,031 triliun -3,89%
Laba yang diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali Rp5,016 triliun Rp4,811 triliun +4,26%

Laba per Saham Turun Menjadi Rp146,31

Penurunan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turut tercermin pada laba per saham Telkom. Laba bersih per saham dasar tercatat Rp146,31 hingga September 2026, turun 3,57% dibandingkan Rp151,73 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba komprehensif periode berjalan mencapai Rp20,50 triliun, meningkat dibandingkan Rp20,16 triliun pada Januari–September 2025. Penghasilan komprehensif lain bersih tercatat Rp1,04 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp313 miliar pada periode sebelumnya.

Total Aset Telkom Turun Menjadi Rp279,81 Triliun

Per 30 September 2026, Telkom membukukan total aset sebesar Rp279,81 triliun, turun 2,76% dibandingkan Rp287,76 triliun pada 31 Desember 2025.

Aset lancar tercatat Rp60,93 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp61,77 triliun pada akhir 2025. Kas dan setara kas mencapai Rp33,63 triliun, turun dari Rp34,23 triliun.

Piutang usaha pihak ketiga meningkat menjadi Rp10,36 triliun dari Rp9,18 triliun. Piutang usaha pihak berelasi tercatat Rp1,87 triliun, turun dibandingkan Rp2,04 triliun pada akhir tahun sebelumnya.

Di sisi aset tidak lancar, nilai aset tetap turun menjadi Rp159,60 triliun dari Rp165,45 triliun. Sebaliknya, aset hak-guna meningkat menjadi Rp28,72 triliun dari Rp27,96 triliun.

Pos Aset 30 September 2026 31 Desember 2025 Perubahan
Kas dan setara kas Rp33,63 triliun Rp34,23 triliun -1,76%
Piutang usaha pihak ketiga Rp10,36 triliun Rp9,18 triliun +12,82%
Aset lancar Rp60,93 triliun Rp61,77 triliun -1,35%
Investasi jangka panjang Rp5,41 triliun Rp7,39 triliun -26,77%
Aset tetap Rp159,60 triliun Rp165,45 triliun -3,54%
Aset hak-guna Rp28,72 triliun Rp27,96 triliun +2,73%
Aset tidak lancar Rp218,88 triliun Rp225,99 triliun -3,15%
Total aset Rp279,81 triliun Rp287,76 triliun -2,76%

Liabilitas Meningkat, Ekuitas Turun Menjadi Rp140,46 Triliun

Total liabilitas Telkom per 30 September 2026 mencapai Rp139,35 triliun, naik 1,55% dibandingkan Rp137,22 triliun pada 31 Desember 2025.

Liabilitas jangka pendek meningkat menjadi Rp75,25 triliun dari Rp73,95 triliun. Pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun naik menjadi Rp21,68 triliun dibandingkan Rp17,75 triliun pada akhir 2025. Utang pajak juga meningkat menjadi Rp3,44 triliun dari Rp2,03 triliun.

Liabilitas jangka panjang tercatat Rp64,10 triliun, naik dari Rp63,27 triliun. Pinjaman jangka panjang mencapai Rp26,56 triliun, sedangkan liabilitas sewa tercatat Rp17,93 triliun.

Sementara itu, total ekuitas turun menjadi Rp140,46 triliun dari Rp150,54 triliun. Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp122,30 triliun, sedangkan kepentingan nonpengendali sebesar Rp18,17 triliun.

Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya turun menjadi Rp90,62 triliun dari Rp97,86 triliun. Selain itu, modal saham yang diperoleh kembali meningkat menjadi Rp1,78 triliun dari Rp30 miliar pada akhir 2025.

Pos Liabilitas dan Ekuitas 30 September 2026 31 Desember 2025 Perubahan
Liabilitas jangka pendek Rp75,25 triliun Rp73,95 triliun +1,76%
Liabilitas jangka panjang Rp64,10 triliun Rp63,27 triliun +1,31%
Total liabilitas Rp139,35 triliun Rp137,22 triliun +1,55%
Ekuitas pemilik entitas induk Rp122,30 triliun Rp130,69 triliun -6,42%
Kepentingan nonpengendali Rp18,17 triliun Rp19,85 triliun -8,49%
Total ekuitas Rp140,46 triliun Rp150,54 triliun -6,69%

Arus Kas Operasi Mencapai Rp48 Triliun

Telkom menghasilkan arus kas bersih dari kegiatan operasi sebesar Rp48,01 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Nilai tersebut turun 3,22% dibandingkan Rp49,61 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penerimaan kas dari pelanggan dan operator lain mencapai Rp110,73 triliun, meningkat dibandingkan Rp108,54 triliun pada Januari–September 2025. Penerimaan restitusi pajak juga naik menjadi Rp1,05 triliun dari Rp934 miliar.

Di sisi pengeluaran, pembayaran kas untuk beban meningkat menjadi Rp38,06 triliun dari Rp35,92 triliun. Pembayaran kas kepada karyawan juga naik menjadi Rp14,09 triliun dibandingkan Rp11,49 triliun pada periode sebelumnya.

Untuk aktivitas investasi, Telkom mencatat arus kas keluar bersih Rp16,67 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp18,55 triliun pada Januari–September 2025. Pembelian aset tetap mencapai Rp14,64 triliun, sedangkan pembelian aset takberwujud sebesar Rp2,21 triliun.

Aktivitas pendanaan mencatat arus kas keluar bersih Rp32,53 triliun. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan Rp33,71 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pembayaran dividen kas kepada pemegang saham perusahaan mencapai Rp22 triliun, meningkat dari Rp21,05 triliun.

Arus Kas Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Arus kas bersih dari kegiatan operasi Rp48,01 triliun Rp49,61 triliun -3,22%
Arus kas bersih untuk kegiatan investasi (Rp16,67 triliun) (Rp18,55 triliun) Arus keluar turun 10,13%
Arus kas bersih untuk kegiatan pendanaan (Rp32,53 triliun) (Rp33,71 triliun) Arus keluar turun 3,50%
Penurunan bersih kas dan setara kas Rp1,20 triliun Rp2,66 triliun Penurunan menyusut 55,04%
Kas dan setara kas akhir periode Rp33,63 triliun Rp31,55 triliun +6,57%

Arus kas pendanaan juga mencakup pencairan utang bank dan pinjaman lainnya sebesar Rp45,88 triliun serta pembayaran pinjaman Rp41,21 triliun. Selain itu, Telkom melakukan pembayaran liabilitas sewa Rp6,61 triliun dan pembelian kembali saham perusahaan sebesar Rp1,75 triliun.

Secara keseluruhan, kas dan setara kas Telkom pada akhir September 2026 tercatat Rp33,63 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Rp31,55 triliun pada akhir September 2025, meskipun selama periode sembilan bulan 2026 perseroan membukukan penurunan bersih kas dan setara kas Rp1,20 triliun.

Baca Laporan Keuangan Emiten

  1. Laba Bersih DMAS Meroket 184% Per September 2026
  2. Laporan Keuangan PJAA September 2026: Laba Bersih Rp25,30 Miliar, Turun 56,52%
  3. Laba AKRA Naik 32% Jadi Rp2,44 Triliun hingga September 2026
  4. Laba BTPS Naik 7% Jadi Rp1,01 Triliun hingga September 2026
  5. Clipan Finance Cetak Laba Rp153,65 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Masih Tertekan
  6. IPCC Catat Pendapatan Rp645,48 Miliar hingga September 2026, Laba Bersih Turun 6,89%
  7. Sunter Lakeside Hotel (SNLK) Catat Pendapatan Rp32,82 Miliar hingga September 2026, Rugi Menyusut 39,36%
  8. Laporan Keuangan Bank Mandiri (BMRI) per September 2026, Laba Naik 13,86% Jadi Rp47,11 Triliun
  9. Bank Aladin Syariah (BANK) Catat Laba Bersih Rp47,26 Miliar hingga September 2026, Turun 63,10%
  10. Bukalapak (BUKA) Catat Rugi Rp881,06 Miliar hingga September 2026
  11. Laporan Keuangan Vale Indonesia (INCO) per September 2026, Laba US$147,12 Juta  Melonjak 180,57%
  12. Laporan Keuangan Telkom Indonesia (TLKM) Q3 2026: Pendapatan Naik Jadi Rp113,50 Triliun namun Laba Bersih Turun

Kesimpulan Kinerja Telkom Indonesia hingga September 2026

Kinerja Telkom Indonesia hingga September 2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan sebesar 3,54% menjadi Rp113,50 triliun. Namun, laba periode berjalan turun 1,91% menjadi Rp19,46 triliun, sedangkan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 3,89% menjadi Rp14,45 triliun.

Dari sisi neraca, total aset turun menjadi Rp279,81 triliun dan total ekuitas menyusut menjadi Rp140,46 triliun. Sementara itu, total liabilitas meningkat menjadi Rp139,35 triliun. Arus kas operasi mencapai Rp48,01 triliun, sedangkan kas dan setara kas pada akhir September 2026 tercatat Rp33,63 triliun.

Perkembangan pendapatan, biaya operasional, laba bersih, belanja aset, pembayaran dividen, serta posisi liabilitas menjadi sejumlah komponen penting dalam membaca kinerja keuangan Telkom pada sembilan bulan pertama 2026.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan rekomendasi atau perintah untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Kuhuni.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

Rangkuman IHSG (03/11/2026): IHSG Anjlok 3,78% ke 4.904, Asing Net Sell Rp575 Miliar, BBRI dan BBCA Tertekan

Kuhuni.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa, 3 November 2026. IHSG ditutup anjlok 3,78% atau turun 192,543 poin ke level 4.904,287.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka dari posisi sebelumnya di 5.096,830. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.143,582, tetapi kemudian merosot hingga level terendah 4.895,596 sebelum ditutup di 4.904,287.

Gedung Bursa Efek Indonesia. Dok. Kuhuni.com

Penurunan tersebut menunjukkan tekanan jual yang cukup luas di pasar saham Indonesia. Dari sisi jumlah saham, sebanyak 596 saham atau 62% saham tercatat mengalami kenaikan lebih dari 2%, 121 saham atau 13% naik antara 0% hingga 2%, sementara 177 saham atau 18% berada dalam kondisi stabil.

Di sisi lain, 33 saham atau 3% mengalami penurunan antara 0% hingga 2%, sedangkan 36 saham atau 4% turun lebih dari 2%.

Incar Valuasi Rp31,76 Kuadriliun, Pengembang AI Anthropic Bersiap Gelar IPO Terbesar

Kuhuni.com — Perusahaan riset kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pengembang chatbot Claude, Anthropic PBC, semakin mantap melangkah menuju penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) yang berpotensi memecahkan rekor dunia. Di tengah persiapan aksi korporasi besar ini, Anthropic mengungkapkan komitmen belanja fantastis yang mencapai lebih dari US$ 895 miliar untuk beberapa tahun mendatang.

Melansir dari Bloomberg, berdasarkan amandemen prospektus yang disampaikan kepada U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) pada Senin lalu, Anthropic mencatatkan lonjakan pendapatan kuartal III yang sangat signifikan. Pendapatan perusahaan melonjak lebih dari 12 kali lipat menjadi hampir US$ 17 miliar per 30 September, dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 1,4 miliar.

Ilustrasi IPO Terbesar di dunia. Kuhuni.com

Anthropic telah resmi mendaftarkan berkas IPO pada 26 Oktober lalu dan menargetkan peluncuran saham di bursa sebelum libur Thanksgiving di Amerika Serikat pada akhir bulan ini. Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, Anthropic berambisi menyamai atau bahkan melampaui raksasa aerospace SpaceX yang sebelumnya meraup dana IPO sebesar US$ 86,2 miliar.

Saham Anthropic direncanakan bakal diperdagangkan di bursa Nasdaq Global Select Market dengan kode emiten ANT. Aksi korporasi ini dipimpin oleh raksasa perbankan investasi Goldman Sachs Group Inc. dan Morgan Stanley, bersama 20 bank penjamin emisi (underwriter) lainnya.

Beban Infrastruktur dan Komputasi Membengkak

Dokumen prospektus terbaru menunjukkan ambisi besar Anthropic untuk terus memimpin persaingan AI, sekaligus menjawab kekhawatiran Wall Street terkait melambatnya laju pertumbuhan pendapatan akibat pembengkakan biaya teknologi.

Hampir seluruh komitmen belanja Anthropic sebesar US$ 895 miliar dialokasikan untuk membiayai infrastruktur dan kapasitas komputasi (computing-power costs). Dari total komitmen tersebut, sekitar US$ 448 miliar akan direalisasikan sebelum akhir tahun 2030, di mana sekitar US$ 70 miliar di antaranya jatuh tempo dalam kurun waktu satu tahun hingga September 2027. Bahkan sejak 30 September lalu, komitmen belanja perusahaan telah bertambah lagi sekitar US$ 100 miliar.

Di sisi bottom line, Anthropic membukukan kerugian bersih (net loss) sebesar US$ 23,3 miliar pada kuartal III, membengkak dari kerugian US$ 12,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar kerugian tersebut (US$ 21,9 miliar) disebabkan oleh penyesuaian nilai wajar (fair value) atas obligasi konversi dan efek lainnya seiring dengan melesatnya valuasi perusahaan.

Sementara itu, beban operasional melonjak 292% secara tahunan menjadi US$ 17,5 billion. Setelah sempat mencetak laba operasional sebesar US$ 974 juta pada kuartal II, kinerja operasional Anthropic kembali berbalik rugi (operating loss) sebesar US$ 567 juta pada kuartal III. Kerugian operasional ini terutama dipicu oleh biaya komputasi komitmen jangka pendek sebesar US$ 5 miliar serta beban non-kas sebesar US$ 2 miliar untuk program charitable donation-matching.

Perang Harga dan Target Valuasi US$ 1,75 Triliun

Teknologi AI yang makin kompetitif mulai menekan tingkat margin pendapatan Anthropic. Peluncuran model baru dengan harga lebih murah seperti Opus 5.5 pada September lalu, ditambah pemberian diskon kontraktual bagi sejumlah pelanggan besar, telah menggerus potensi pertumbuhan pendapatan kuartal III sekitar US$ 600 juta.

Baca: Kantongi Pendapatan US$ 33,24 Miliar, Anthropic Perbarui Dokumen IPO di Tengah Kerugian Fantastis

Langkah pemotongan harga ini tak terelakkan lantaran pesaing utamanya, OpenAI, juga meluncurkan model berbiaya rendah. Di saat yang sama, pengembang AI global—termasuk pengembang asal Tiongkok—gencar merilis model open-weight berbiaya murah yang dapat diunduh dan disesuaikan sendiri oleh konsumen.

Meski demikian, minat investor terhadap saham IPO Anthropic tetap sangat tinggi. Sejumlah investor mengindikasikan kepada para perbankan investasi bahwa perkiraan valuasi wajar Anthropic kini berada di kisaran US$ 1,4 triliun hingga US$ 1,5 triliun, dengan potensi batas atas mencapai US$ 1,75 triliun setara Rp31,76 kuadriliun (atau Rp31.750 triliun)..

Marak Pendanaan Kolosal Sektor AI

Kebutuhan dana dalam jumlah raksasa untuk membiayai infrastruktur AI telah memicu gelombang pencarian modal berskala besar di industri teknologi global.

Selain rencana IPO Anthropic, raksasa media sosial Meta Platforms Inc. pada 26 Oktober lalu mulai menggalang dana ekuitas hingga US$ 98 miliar—salah satu pencarian dana terbesar dalam sejarah bisnis teknologi. Langkah ini menyusul raksasa Alphabet Inc. (induk usaha Google) yang lebih dulu mengumumkan rencana penggalangan dana ekuitas sebesar US$ 85 miliar.

Baca: Daftar Harga iPhone Terbaru November 2026 di iBox: iPhone 18 Pro & iPhone Duo Resmi Hadir!

Tak ketinggalan, Oracle Corp. juga mengumumkan rencana penggalangan dana sebesar US$ 20 miliar, yang mencakup penjualan saham senilai US$ 10 miliar.

Langkah IPO Anthropic akan menjadi tonggak sejarah baru sebagai perusahaan pengembang model AI paling maju (frontier AI) pertama yang melantai di bursa publik. Sementara pesaing utamanya, OpenAI, masih berupaya menggalang dana puluhan miliar dolar melalui pendanaan privat setelah menunda rencana IPO hingga tahun depan.

Serial Belajar Saham:

  1. Apa Itu Trading? Pengertian Trading untuk Pemula
  2. Manajemen Risiko dalam Trading: Panduan Lengkap untuk Pemula
  3. Apa Itu Trading Saham? Pengertian, Cara Kerja dan Contohnya untuk Pemula
  4. Cara Menjual Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  5. 20 Istilah Penting Dalam Saham yang Wajib Diketahui Pemula
  6. Panduan Lengkap Investasi Saham untuk Pemula
  7. Cara Trading Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  8. Cara Main Saham Modal Kecil: Mulai Rp100 Ribu, Rp500 Ribu, atau Rp1 Juta
  9. 25 Aplikasi Trading Terpercaya dan Resmi di Indonesia yang Terdaftar OJK dan BEI
  10. Daftar Kode Broker Asing dan Lokal di Indonesia: Resmi Terdaftar di BEI dan OJK
  11. 12 Teknik Scalping Saham Paling Efektif untuk Dapat Cuan
  12. Analisis Teknikal untuk Pemula: Cara Membaca Grafik Saham dari Nol
  13. Cara Membaca Grafik Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  14. Apa Itu Support dan Resistance? Pengertian, Cara Menentukan dan Contohnya
  15. Cara Membaca Candlestick Saham: Panduan Lengkap untuk Pemula

OJK Sikat DSSA, BREN, dan CUAN dengan Denda Jumbo Rp 2,1 Triliun di Tengah Ancaman MSCI

Kuhuni.com, Jakarta — Praktik goreng-menggoreng saham di Pasar Modal Indonesia yang selama ini berhasil melambungkan kekayaan para konglomerat Tanah Air kini berbalik menjadi bumerang mematikan. Bursa Efek Indonesia (BEI) kini berada di ambang penyesuaian status (downgrade) yang mahal dari lembaga penyedia indeks global, MSCI Inc.

Melansir dari Bloomberg dan diperkuat oleh data resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dugaan skema perdagangan semu (wash trade) yang terstruktur ketat telah menyeret nama-nama besar dari kalangan pialang hingga jajaran orang terkaya di Indonesia.

OJK dalam media briefing di Gedung Soemitro Djojohadikusumo.Dok. OJK

Awal Petaka Saham Gorengan & Peran Pialang

Dugaan rekayasa ini mencuat saat kenaikan fantastis 5.000% terjadi pada saham produsen olahan makanan, PT Abadi Lestari Indonesia (RLCO). Pada akhir Januari 2026, Samuel Sekuritas merilis riset yang menyebut bahwa lonjakan saham Abadi baru permulaan dan bakal meroket hingga 50,000% demi menembus indeks MSCI.

Namun, laporan Bloomberg mengungkapkan bahwa di balik layar, para trader Samuel Sekuritas diduga bekerja sama dengan manajemen Abadi untuk memompa harga dan merekayasa volume perdagangan. Dengan memanfaatkan akun atas nama orang lain (nominee accounts)—yang diduga menggunakan identitas asisten rumah tangga hingga sopir—serta portofolio nasabah, transaksi beli-jual buatan diciptakan.

Kantongi Pendapatan US$ 33,24 Miliar, Anthropic Perbarui Dokumen IPO di Tengah Kerugian Fantastis

Kuhuni.com — Perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pengembang chatbot Claude, Anthropic, resmi memperbarui dokumen pendaftaran Form S-1 kepada U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) pada Senin lalu. Dokumen teranyar ini memberikan gambaran keuangan yang lebih komprehensif kepada calon investor menjelang penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) yang berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah teknologi.

Anthropic Dok. Kuhuni.com

Berdasarkan laporan keuangan terbaru hingga 30 September, Anthropic mencatatkan pendapatan sebesar US$ 33,24 miliar untuk periode sembilan bulan pertama (9M). Angka ini meroket hingga 1.200% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kendati demikian, pertumbuhan pendapatan yang masif tersebut dibarengi dengan nilai kerugian bersih (net loss) yang tak kalah fantastis, yakni mencapai US$ 104 miliar dalam periode sembilan bulan. Manajemen menjelaskan bahwa sebagian besar kerugian tersebut dipicu oleh penyesuaian nilai wajar (fair value) atas obligasi konversi (convertible notes) dan liabilitas derivatif. Sebagai perbandingan, kerugian Anthropic pada periode yang sama di tahun 2025 tercatat sebesar US$ 25,1 miliar.

Daftar 9 Saham Bagi Dividen November 2026: Cek Jadwal, Cum Date, dan Nominal Terbesar

Kuhuni.com, Jadwal Dividen November 2026 — Musim pembagian dividen interim di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menyapa para investor pada November 2026. Berdasarkan keterbukaan informasi Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sedikitnya terdapat sembilan emiten dari beragam sektor—mulai dari pertambangan, perkebunan, peternakan, hingga barang konsumsi—yang dijadwalkan mengucurkan dividen tunai bulan ini.

|Ilustrasi mendapatkan dividen dari saham. Kuhuni.com

Nominal yang ditawarkan terbilang bervariasi. PT United Tractors Tbk. (UNTR) memimpin takhta sebagai emiten penyebar dividen dengan nominal per saham terbesar, yakni Rp430 per unit. Sementara itu, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) mencetak nilai total dividen fantastis sebesar US$30 juta.

Bagi Anda yang berburu pendapatan pasif (passive income) dari pasar modal, berikut adalah ulasan komprehensif mengenai rincian dividen dan jadwal penting yang wajib dicermati.

Belajar dari Kasus Peretasan Binance Rp114 Triliun, Lindungi Akun Bank, Sekuritas, Kripto, dan Email Sebelum Terlambat!

KUHUNI.COM —Kasus peretasan terhadap Binance, salah satu bursa mata uang kripto terbesar di dunia, menjadi peringatan serius bagi seluruh pengguna layanan keuangan digital. Nilai aset yang terdampak dalam insiden ini diperkirakan mencapai lebih dari US$6 miliar atau sekitar Rp114 triliun (kurs BI 2 November 2026 sebesar Rp18.138 per US$1).

Besarnya nilai tersebut menjadikan insiden Binance sebagai salah satu peristiwa pencurian aset kripto terbesar yang pernah tercatat, bahkan melampaui kasus peretasan Bybit senilai sekitar US$1,5 miliar pada 2025.

Ilustrasi peretasan binance senilai Rp114 Triliun

Kasus ini bukan sekadar persoalan keamanan sebuah perusahaan kripto. Peristiwa tersebut memperlihatkan betapa besar risiko yang dapat muncul ketika sistem digital, akses internal, dan keamanan data tidak terlindungi dengan baik.

Bagi masyarakat yang saat ini menggunakan aplikasi perbankan, rekening saham, cryptocurrency, dompet digital, hingga berbagai layanan keuangan berbasis internet, kejadian ini seharusnya menjadi pengingat bahwa keamanan akun bukan sesuatu yang boleh dianggap sepele.

Rangkuman IHSG (02/11/2026): IHSG Naik 0,79%, Asing Masih Net Sell Rp112,47 Miliar, Saham DFAM Top Gainers dan LINK Top Losers

Kuhuni.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin, 2 November 2026. Indeks naik 39,780 poin atau 0,79% ke level 5.096,830, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 5.057,050.

Penguatan IHSG berlangsung di tengah aktivitas transaksi saham yang mencapai Rp12,42 triliun. Namun, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp112,47 miliar di pasar saham Indonesia.

Berdasarkan statistik perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat bergerak pada rentang 4.981,519 hingga 5.125,739 sepanjang perdagangan. Dengan demikian, indeks berhasil ditutup lebih tinggi dibandingkan posisi pembukaannya.

Gedung Bursa Efek Indonesia. Dok. Kuhuni.com

Statistik Perdagangan Saham BEI 2 November 2026

Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mencapai puluhan miliar saham pada awal pekan ini. Total volume transaksi tercatat sekitar 34,65 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,42 triliun.

Berikut ringkasan statistik perdagangan saham BEI pada 2 November 2026.

Terbaru

      Konten Pilihan