Apa Itu RSI? Pengertian, Cara Membaca dan Menggunakan RSI Saham

Apa itu RSI? RSI adalah singkatan dari Relative Strength Index, yaitu salah satu indikator dalam analisis teknikal yang digunakan untuk melihat kekuatan pergerakan harga saham dan membantu mengidentifikasi kondisi overbought (jenuh beli) atau oversold (jenuh jual).

RSI sangat populer karena cara membacanya cukup sederhana. Indikator ini menggunakan skala 0 sampai 100. Secara umum, RSI di atas 70 sering dianggap menunjukkan kondisi overbought, sedangkan RSI di bawah 30 menunjukkan kondisi oversold.

Namun, RSI tidak boleh dianggap sebagai tombol otomatis untuk membeli atau menjual saham. RSI sebaiknya digunakan bersama indikator lain seperti Moving Average, support dan resistance, volume, serta candlestick agar keputusan trading lebih terukur.

RSI Saham
Pengertian RSI Saham

Apa Itu RSI?

Relative Strength Index atau RSI adalah indikator momentum yang digunakan untuk mengukur kekuatan pergerakan harga saham dalam periode tertentu.

Sederhananya, RSI membantu menjawab pertanyaan:
Apakah harga saham sedang mengalami tekanan beli yang kuat atau tekanan jual yang kuat?

RSI memiliki nilai antara 0 hingga 100.

Semakin tinggi nilai RSI, semakin kuat momentum kenaikan harga dalam periode yang dihitung.
Sebaliknya, semakin rendah nilai RSI, semakin kuat momentum penurunan harga.

Contohnya:

Nilai RSI Kondisi Umum Cara Membacanya
0–29 Oversold Tekanan jual sangat kuat
30–49 Cenderung lemah Momentum belum kuat
50 Netral Kekuatan beli dan jual relatif seimbang
51–69 Cenderung kuat Momentum kenaikan mulai dominan
70–100 Overbought Tekanan beli sangat kuat

Batas 30 dan 70 merupakan patokan yang paling populer dalam penggunaan RSI. BEI juga menjelaskan RSI dengan skala 0–100 serta area overbought di atas 70 dan oversold di bawah 30.

Apa Fungsi RSI dalam Analisis Saham?

RSI terutama digunakan untuk membaca momentum harga.

Dengan melihat RSI, trader dapat memperoleh gambaran apakah sebuah saham sedang mengalami momentum kenaikan atau penurunan yang cukup kuat.

Beberapa fungsi RSI antara lain:

  1. Melihat momentum harga.
  2. Mengidentifikasi area overbought.
  3. Mengidentifikasi area oversold.
  4. Membantu mencari peluang entry.
  5. Membantu menentukan kemungkinan pembalikan arah.
  6. Mengonfirmasi analisis teknikal lainnya.
  7. Membantu membaca divergence.

OJK sendiri menjelaskan bahwa analisis teknikal modern menggunakan perhitungan rasio berdasarkan pergerakan harga historis untuk mengenali kondisi seperti overbought dan oversold. OJK juga memasukkan Moving Average dan Relative Strength Index sebagai metode analisis teknikal modern yang umum digunakan.

Cara Membaca RSI Saham

Cara membaca RSI sebenarnya cukup mudah.

Misalnya Anda membuka grafik saham dan melihat garis RSI berada pada angka 75.

Artinya, saham tersebut sedang berada di area yang secara umum disebut overbought.

Sebaliknya, jika RSI berada di angka 25, saham tersebut sedang berada di area oversold.

Gambaran sederhananya seperti ini:

  • RSI 75 → Overbought → momentum beli sangat kuat
  • RSI 50 → Netral
  • RSI 25 → Oversold → tekanan jual sangat kuat

Tetapi ada satu hal penting.

Overbought bukan berarti harga pasti turun.
Begitu juga:
Oversold bukan berarti harga pasti naik.

Inilah salah satu kesalahan yang sering dilakukan pemula.

Apa Itu RSI 70?

RSI 70 merupakan batas yang umum digunakan untuk menandai kondisi overbought atau jenuh beli.

Misalnya saham ABCD memiliki RSI 72.

Artinya, momentum kenaikan saham tersebut sedang sangat kuat dan sudah masuk area yang secara umum dianggap overbought.

Sebagian trader kemudian mulai waspada karena harga berpotensi mengalami:

  • koreksi,
  • konsolidasi,
  • atau pembalikan arah.

Tetapi harga juga bisa terus naik meskipun RSI berada di atas 70.

Misalnya:

Harga saham:
Rp1.000 → Rp1.050 → Rp1.100 → Rp1.150

RSI:
62 → 68 → 73 → 78

Walaupun RSI sudah di atas 70, harga belum tentu langsung jatuh.

Karena itu, jangan menggunakan aturan sederhana:
“RSI di atas 70 berarti harus jual.”

Aturan tersebut terlalu sederhana.

RSI lebih baik digunakan sebagai peringatan atau sinyal yang perlu dikonfirmasi, bukan sebagai keputusan tunggal.

Apa Itu RSI 30?

RSI 30 merupakan batas yang umum digunakan untuk menunjukkan kondisi oversold atau jenuh jual.

Misalnya RSI sebuah saham turun ke angka 28.

Artinya tekanan jual saham tersebut sedang sangat kuat.

Trader kemudian dapat mulai memperhatikan apakah harga mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan.

Misalnya:

Harga saham turun:
Rp1.000 → Rp950 → Rp900 → Rp850

RSI:
45 → 37 → 31 → 26

RSI sudah berada di bawah 30.

Namun, bukan berarti saham tersebut otomatis harus dibeli.

Harga bisa saja masih terus turun.

Karena itu, trader biasanya menunggu konfirmasi tambahan.

Apa Itu Overbought pada RSI?

Overbought berarti kondisi ketika momentum kenaikan harga sudah sangat kuat sehingga saham dianggap berada dalam kondisi jenuh beli.

Dalam RSI, area di atas 70 umumnya digunakan sebagai zona overbought.

Contohnya:
RSI = 78.

Trader dapat menganggap saham tersebut sudah mengalami kenaikan dengan momentum yang kuat.

Yang perlu dilakukan bukan langsung menjual, tetapi melihat kondisi lainnya.

Misalnya:

  • Apakah harga berada dekat resistance?
  • Apakah volume mulai mengecil?
  • Apakah muncul candlestick bearish?
  • Apakah harga mulai gagal mencetak high baru?
  • Apakah RSI mulai turun?
  • Apakah terjadi bearish divergence?

Semakin banyak konfirmasi yang muncul, semakin menarik untuk diperhatikan.

Apa Itu Oversold pada RSI?

Oversold adalah kondisi ketika momentum penurunan harga sudah sangat kuat.

Dalam penggunaan RSI yang umum, angka di bawah 30 dianggap sebagai area oversold.

Misalnya:
RSI = 22.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual yang sangat kuat.

Namun sekali lagi, oversold tidak sama dengan pasti naik.

Saham yang sedang oversold masih dapat mengalami penurunan lebih jauh apabila tekanan jual terus berlanjut.

Karena itu, trader dapat mencari konfirmasi seperti:

  • harga menyentuh support,
  • muncul candlestick reversal,
  • volume pembelian meningkat,
  • RSI mulai naik,
  • terjadi bullish divergence.

Apakah RSI 30 Selalu Berarti Waktu Membeli?

Tidak.

Ini sangat penting untuk dipahami pemula.

Bayangkan saham sedang mengalami tren turun yang kuat.

Harga:
Rp1.000 → Rp900 → Rp800 → Rp700 → Rp600

RSI:
35 → 29 → 24 → 20 → 18

RSI sudah masuk oversold sejak harga Rp900.

Kalau trader langsung membeli ketika RSI 29, saham ternyata masih bisa turun ke Rp600.

Jadi RSI tidak boleh digunakan sendirian.

Lebih baik menunggu kombinasi seperti:
RSI oversold + support + candlestick reversal + volume meningkat.

Kombinasi tersebut memberikan informasi yang lebih lengkap dibanding hanya melihat satu indikator.

Apakah RSI 70 Selalu Berarti Waktu Menjual?

Tidak juga.

Dalam tren naik yang kuat, RSI bisa berada di atas 70 dalam waktu cukup lama.

Misalnya:
RSI:
72 → 75 → 78 → 81

Harga tetap naik.

Ini menunjukkan bahwa saham sedang memiliki momentum yang sangat kuat.

Jika trader langsung melakukan short atau menjual hanya karena RSI berada di atas 70, keputusan tersebut justru dapat membuat trader kehilangan peluang ketika tren naik masih berlanjut.

Karena itu, kondisi overbought lebih tepat dipahami sebagai peringatan bahwa momentum sudah tinggi, bukan kepastian harga akan turun.

Cara Menggunakan RSI untuk Trading Saham

Ada beberapa cara sederhana menggunakan RSI.

1. Menggunakan RSI 30 dan 70

Ini adalah cara paling mudah untuk pemula.

Aturannya:

  • RSI di bawah 30 → perhatikan potensi oversold.
  • RSI di atas 70 → perhatikan potensi overbought.
  • RSI sekitar 50 → momentum relatif netral.

Tetapi tetap cari konfirmasi dari grafik harga.

2. RSI dan Support

Misalnya saham turun ke area support Rp1.000.

Pada saat yang sama RSI turun ke 27.

Kemudian harga mulai bertahan di sekitar Rp1.000 dan RSI naik kembali melewati 30.

Kondisi tersebut lebih menarik dibanding hanya melihat RSI 27.

Mengapa?

Karena terdapat dua informasi:
Harga berada di support + RSI menunjukkan oversold.

Trader kemudian dapat menunggu konfirmasi berikutnya sebelum mengambil keputusan.

3. RSI dan Resistance

Misalnya saham naik sampai resistance Rp1.500.

RSI kemudian mencapai 74.

Kondisi tersebut dapat menjadi sinyal untuk meningkatkan kewaspadaan.

Trader dapat memperhatikan apakah:

  • harga gagal menembus resistance,
  • muncul candlestick bearish,
  • volume melemah,
  • RSI mulai turun.

Jika beberapa sinyal tersebut muncul bersamaan, peluang koreksi menjadi lebih layak diperhatikan.

4. RSI dan Moving Average

RSI juga dapat dikombinasikan dengan Moving Average.

Misalnya:

  • harga berada di atas MA50,
  • MA50 mengarah naik,
  • RSI berada di atas 50.

Kondisi tersebut menunjukkan momentum yang relatif positif.

Sebaliknya:

  • harga berada di bawah MA50,
  • MA50 mengarah turun,
  • RSI berada di bawah 50.

Momentum terlihat lebih lemah.

Namun tetap tidak ada indikator yang mampu menjamin harga akan naik atau turun.

Apa Arti RSI 50?

RSI 50 sering dianggap sebagai area tengah atau netral.

Secara sederhana:

RSI > 50
→ momentum kenaikan relatif lebih kuat.

RSI < 50
→ momentum penurunan relatif lebih kuat.

Contohnya:
Saham ABCD memiliki RSI 62.
Momentum harga terlihat cukup positif.

Jika RSI turun menjadi 48, momentum kenaikan mulai melemah.

Jika kemudian turun menjadi 35, tekanan jual menjadi lebih dominan.

Karena itu, selain angka 30 dan 70, trader juga dapat memperhatikan garis tengah 50.

Apa Itu Divergence pada RSI?

Salah satu penggunaan RSI yang menarik adalah mencari divergence.

Divergence terjadi ketika arah pergerakan harga tidak sejalan dengan arah indikator RSI.

Ada dua jenis yang paling dikenal.

Bullish Divergence

Bullish divergence terjadi ketika:
Harga membuat lower low, tetapi RSI membuat higher low.

Contohnya:

Harga:
Rp1.000 → Rp900 → Rp800

RSI:
25 → 22 → 27

Harga membuat titik terendah baru.
Tetapi RSI justru membuat titik terendah yang lebih tinggi.

Kondisi ini dapat menunjukkan bahwa tekanan jual mulai kehilangan kekuatan.

Trader kemudian dapat mencari konfirmasi pembalikan arah.

Bearish Divergence

Sebaliknya, bearish divergence terjadi ketika:
Harga membuat higher high, tetapi RSI membuat lower high.

Contohnya:

Harga:
Rp1.000 → Rp1.100 → Rp1.200

RSI:
75 → 78 → 72

Harga masih mencetak harga tertinggi baru.
Namun RSI justru tidak ikut mencetak level tertinggi baru.

Kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa momentum kenaikan mulai melemah.

Sekali lagi, divergence bukan jaminan harga pasti berbalik.

RSI dan Candlestick

RSI akan lebih berguna apabila digabungkan dengan candlestick.

Misalnya saham berada di area support.

Kemudian:

  1. RSI turun ke bawah 30.
  2. Harga menyentuh support.
  3. Muncul candlestick bullish.
  4. Volume meningkat.
  5. RSI mulai naik.

Trader memperoleh beberapa konfirmasi sekaligus.

Ini jauh lebih baik daripada hanya mengatakan:
“RSI di bawah 30, berarti beli.”

Begitu pula ketika saham berada di resistance dan RSI di atas 70.

Trader dapat melihat apakah muncul pola candlestick bearish sebagai konfirmasi tambahan.

Contoh Menggunakan RSI untuk Saham

Misalnya Anda memiliki modal Rp1 juta.

Anda mengamati saham ABCD.

Harga saham: Rp1.000 per saham
RSI: 24

Artinya RSI sudah berada di area oversold.

Namun Anda tidak langsung membeli.

Anda kemudian melihat grafik.

Ternyata:

  • harga berada dekat support Rp980,
  • muncul candlestick bullish,
  • volume mulai meningkat,
  • RSI naik dari 24 menjadi 31.

Sekarang kondisi menjadi lebih menarik.

Trader dapat menyusun rencana:

  • Harga: Rp1.000
  • Support: Rp980
  • Target: Rp1.080
  • Batas risiko: di bawah support sesuai rencana trading.

Dengan cara seperti ini, RSI menjadi bagian dari sebuah rencana trading.
Bukan menjadi satu-satunya alasan membeli saham.

RSI untuk Day Trading

RSI juga dapat digunakan untuk day trading.

Day trader biasanya menggunakan timeframe seperti:

  • 5 menit,
  • 15 menit,
  • 30 menit,
  • 1 jam.

Tetapi semakin pendek timeframe, semakin banyak pula noise atau sinyal palsu yang dapat muncul.

Misalnya RSI pada grafik 5 menit turun ke 25.

Saham memang terlihat oversold.

Tetapi beberapa menit kemudian RSI bisa kembali turun ke 20.

Karena itu, day trader perlu memperhatikan:

  • tren utama,
  • support dan resistance,
  • volume,
  • bid dan offer,
  • candlestick,
  • serta manajemen risiko.

RSI untuk Swing Trading

Untuk swing trading, RSI dapat digunakan pada timeframe yang lebih panjang seperti:

  • 1 jam,
  • 4 jam,
  • harian.

Trader dapat mencari saham yang memiliki tren cukup jelas dan menggunakan RSI sebagai alat tambahan untuk membaca momentum.

Contohnya:

  • Harga berada di atas MA50.
  • RSI turun dari 65 ke 42.
  • Harga kemudian mendekati support.

Jika muncul candlestick bullish dan RSI kembali naik, trader dapat mempertimbangkan apakah muncul peluang swing trading.

Tetap diperlukan stop loss sesuai rencana risiko.

Periode RSI yang Paling Sering Digunakan

RSI memiliki pengaturan periode.

Salah satu periode yang paling populer adalah 14.

Artinya indikator menghitung pergerakan berdasarkan 14 periode sesuai timeframe yang digunakan.

Contohnya:
RSI 14 pada grafik harian menggunakan 14 hari perdagangan sebagai dasar perhitungan.

Jika menggunakan grafik 1 jam, maka RSI 14 menggunakan 14 candle 1 jam.

Trader juga dapat menggunakan periode berbeda.

Misalnya:

  • RSI 7,
  • RSI 9,
  • RSI 14,
  • RSI 21.

Semakin pendek periodenya, RSI biasanya menjadi lebih sensitif terhadap perubahan harga.

Semakin panjang periodenya, RSI cenderung lebih halus tetapi lebih lambat merespons perubahan.

Untuk pemula, RSI 14 dapat menjadi titik awal yang sederhana.

Rumus RSI

Secara dasar, rumus RSI menggunakan perbandingan rata-rata kenaikan dan rata-rata penurunan harga.

Rumus sederhananya:

RSI = 100 - [100 / (1 + RS)]

Sedangkan:

RS = Average Gain / Average Loss

Keterangan:

  • RSI = Relative Strength Index
  • RS = Relative Strength
  • Average Gain = rata-rata kenaikan harga
  • Average Loss = rata-rata penurunan harga

Pemula sebenarnya tidak perlu menghitung RSI secara manual.

Sebagian besar aplikasi trading dan charting sudah menyediakan indikator RSI secara otomatis.

Yang lebih penting adalah memahami cara membaca RSI dan menggunakannya bersama analisis lainnya.

Kelebihan RSI

RSI memiliki beberapa kelebihan.

Mudah Dibaca

Skala 0 sampai 100 membuat RSI relatif mudah dipahami.

Pemula cukup mengenali:

  • 30 = oversold
  • 50 = tengah/netral
  • 70 = overbought

Membantu Membaca Momentum

RSI dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan momentum harga.

Bisa Digabungkan dengan Indikator Lain

RSI dapat dikombinasikan dengan:

  • Moving Average,
  • support,
  • resistance,
  • volume,
  • candlestick,
  • MACD.

Cocok untuk Banyak Gaya Trading

RSI dapat digunakan untuk membantu analisis:

  • day trading,
  • swing trading,
  • position trading.

Kekurangan RSI

RSI juga memiliki kelemahan.

RSI Bisa Memberikan Sinyal Terlalu Dini

Saham yang sudah oversold masih bisa turun.
Saham yang sudah overbought masih bisa naik.

Kurang Efektif Jika Digunakan Sendirian

RSI hanya memberikan satu bagian informasi.
Trader tetap perlu melihat harga dan kondisi pasar.

Bisa Menghasilkan False Signal

Terutama ketika pasar bergerak sangat cepat atau sideways.

Tidak Menjamin Harga Berbalik

Ini yang paling penting.
RSI bukan alat untuk memprediksi masa depan dengan pasti.

Kesalahan Pemula Saat Menggunakan RSI

Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi.

  1. Menganggap RSI di bawah 30 pasti naik
    Ini salah. Oversold hanya menunjukkan tekanan jual sudah kuat.
  2. Menganggap RSI di atas 70 pasti turun
    Ini juga salah. Saham dengan tren naik kuat dapat bertahan di area overbought.
  3. Menggunakan RSI tanpa melihat harga
    RSI harus dibaca bersama grafik harga.
  4. Tidak Melihat Tren
    RSI 30 pada tren turun yang sangat kuat tidak otomatis menjadi sinyal beli.
  5. Tidak Menggunakan Stop Loss
    Sinyal RSI dapat salah. Karena itu, manajemen risiko tetap diperlukan.

RSI vs Moving Average

RSI dan Moving Average sama-sama merupakan indikator teknikal, tetapi fungsinya berbeda.

Indikator Fungsi Utama
RSI Mengukur momentum dan kondisi overbought/oversold
Moving Average Membantu melihat arah tren dan rata-rata harga
Volume Melihat aktivitas perdagangan
Support Area harga yang berpotensi menahan penurunan
Resistance Area harga yang berpotensi menahan kenaikan
MACD Membantu membaca momentum dan perubahan tren

Karena fungsinya berbeda, beberapa trader menggabungkan indikator tersebut.

Contohnya:

  • Moving Average → melihat tren
  • RSI → melihat momentum
  • Support/Resistance → menentukan area harga
  • Volume → melihat kekuatan pergerakan

Dengan begitu, setiap indikator memiliki tugas masing-masing.

Strategi RSI Sederhana untuk Pemula

Jika baru belajar, jangan langsung menggunakan banyak indikator.

Cobalah strategi sederhana berikut.

  1. Lihat Tren
    Gunakan Moving Average untuk melihat apakah saham sedang naik, turun, atau sideways.
  2. Cari Support dan Resistance
    Tandai area penting pada grafik.
  3. Lihat RSI
    Perhatikan apakah RSI mendekati 30, berada di sekitar 50, atau mendekati 70.
  4. Tunggu Konfirmasi
    Jangan langsung membeli hanya karena RSI berada di bawah 30. Tunggu apakah harga memberikan tanda pembalikan.
  5. Tentukan Risiko
    Sebelum membeli, tentukan harga entry, target keuntungan, stop loss, dan jumlah saham.

Dengan demikian, RSI hanya menjadi salah satu bagian dari trading plan.

Contoh Trading Menggunakan RSI

Misalnya:

  • Modal = Rp1.000.000
  • Harga saham = Rp1.000
  • RSI = 27
  • Support = Rp980
  • Resistance = Rp1.100

Trader melihat RSI oversold.
Namun belum langsung membeli.

Beberapa saat kemudian:

  • harga bertahan di Rp1.000,
  • candlestick mulai bullish,
  • volume meningkat,
  • RSI naik ke 32.

Trader kemudian mempertimbangkan entry berdasarkan rencana yang telah dibuat.

Jika harga bergerak naik menuju resistance Rp1.100, trader dapat mulai memperhatikan kemungkinan take profit.

Jika harga justru menembus support dan kondisi analisis memburuk, trader dapat menjalankan stop loss sesuai rencana.

Inilah penggunaan RSI yang lebih sehat.

RSI memberikan informasi. Trader tetap harus membuat keputusan berdasarkan keseluruhan kondisi.

Apakah RSI Cocok untuk Pemula?

Ya, RSI cukup cocok untuk pemula karena konsep dasarnya mudah dipahami.

Pemula dapat mulai dengan memahami tiga angka:

  • 30 → oversold
  • 50 → area tengah
  • 70 → overbought

Setelah memahami tiga area tersebut, barulah belajar:

  • divergence,
  • RSI dengan support/resistance,
  • RSI dengan Moving Average,
  • RSI dengan volume,
  • RSI dengan candlestick.

Jangan langsung menggunakan terlalu banyak indikator.

Tujuan analisis teknikal bukan membuat grafik terlihat penuh, tetapi membantu trader membuat keputusan yang lebih terstruktur.

RSI Bukan Sinyal Beli dan Jual Otomatis

Ini adalah kesimpulan paling penting dari pembahasan RSI.

RSI bukan seperti lampu lalu lintas yang mengatakan:
RSI 30 = BELI
RSI 70 = JUAL

Pasar tidak sesederhana itu.

RSI hanya membantu melihat kondisi momentum.

Keputusan trading tetap perlu mempertimbangkan:

  • tren,
  • harga,
  • support,
  • resistance,
  • volume,
  • kondisi perusahaan,
  • kondisi pasar,
  • dan manajemen risiko.

OJK juga menjelaskan bahwa analisis teknikal menggunakan data historis dan berbagai metode untuk membantu analisis pergerakan harga.

Kesimpulan

Apa itu RSI?

RSI atau Relative Strength Index adalah indikator analisis teknikal yang digunakan untuk membantu membaca momentum pergerakan harga dan mengenali kondisi overbought serta oversold.

RSI menggunakan skala 0 sampai 100.

Secara umum:

  • RSI di atas 70 → overbought.
  • RSI sekitar 50 → area tengah.
  • RSI di bawah 30 → oversold.

Tetapi jangan langsung menganggap RSI 70 berarti saham harus dijual atau RSI 30 berarti saham harus dibeli.

Cara menggunakan RSI yang lebih baik adalah menggabungkannya dengan support dan resistance, Moving Average, volume, candlestick, serta manajemen risiko.

Dengan cara tersebut, RSI dapat menjadi salah satu alat yang berguna bagi trader pemula untuk memahami momentum saham.

cara membeli saham bbca
Ilustrasi: Melakukan analisis sebelum membeli saham BBCA. Dokumentasi Kuhuni.com

FAQ Apa Itu RSI

Apa kepanjangan RSI?

RSI adalah singkatan dari Relative Strength Index.

Apa fungsi RSI?

RSI digunakan untuk membantu membaca momentum harga dan mengidentifikasi kondisi overbought serta oversold.

RSI 70 artinya apa?

RSI 70 secara umum menjadi batas yang digunakan untuk mengidentifikasi area overbought atau jenuh beli.

RSI 30 artinya apa?

RSI 30 secara umum menjadi batas yang digunakan untuk mengidentifikasi area oversold atau jenuh jual.

Apakah RSI 30 berarti harus membeli saham?

Tidak. RSI 30 hanya menunjukkan saham berada di area oversold. Trader tetap perlu mencari konfirmasi lainnya.

Apakah RSI 70 berarti harus menjual saham?

Tidak. Saham dalam tren naik yang kuat dapat tetap berada di atas RSI 70.

Berapa periode RSI yang bagus?

RSI 14 merupakan salah satu pengaturan yang umum digunakan dan dapat menjadi titik awal bagi pemula. Periode dapat disesuaikan dengan gaya trading dan timeframe.

Apakah RSI bisa digunakan untuk trading saham?

Bisa. RSI dapat digunakan sebagai salah satu alat analisis untuk day trading maupun swing trading.

Apakah RSI bisa digunakan sendirian?

Sebaiknya tidak. RSI lebih baik dikombinasikan dengan analisis harga, tren, support/resistance, volume, dan manajemen risiko.


Serial Belajar Saham:

  1. Apa Itu Trading? Pengertian Trading untuk Pemula
  2. Apa Itu Trading Saham? Pengertian, Cara Kerja dan Contohnya untuk Pemula
  3. 20 Istilah Penting Dalam Saham yang Wajib Diketahui Pemula
  4. Panduan Lengkap Investasi Saham untuk Pemula
  5. Cara Trading Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  6. Cara Main Saham Modal Kecil: Mulai Rp100 Ribu, Rp500 Ribu, atau Rp1 Juta
  7. 25 Aplikasi Trading Terpercaya dan Resmi di Indonesia yang Terdaftar OJK dan BEI
  8. Daftar Kode Broker Asing dan Lokal di Indonesia: Resmi Terdaftar di BEI dan OJK
  9. 12 Teknik Scalping Saham Paling Efektif untuk Dapat Cuan
  10. Analisis Teknikal untuk Pemula: Cara Membaca Grafik Saham dari Nol
  11. Cara Membaca Grafik Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  12. Apa Itu Support dan Resistance? Pengertian, Cara Menentukan dan Contohnya
  13. Cara Membaca Candlestick Saham: Panduan Lengkap untuk Pemula
  14. Apa Itu Volume Saham? Pengertian, Cara Membaca dan Contohnya
  15. Apa Itu Moving Average? Pengertian, Cara Membaca, Rumus dan Contohnya
  16. Apa Itu RSI? Pengertian, Cara Membaca dan Menggunakan RSI Saham

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan  rekomendasi atau perintah jual atau beli saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi kuhuni.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

Bunga Deposito Bank Jago Tertinggi 6,25% per Tahun, Simulasi Rp100 Juta, Rp500 Juta dan Rp1 Miliar

Bunga deposito Bank Jago menjadi salah satu pilihan bagi nasabah yang ingin menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu sekaligus memperoleh bunga. Berdasarkan informasi resmi Bank Jago, bunga Deposito Jago saat ini mencapai 6,25% per tahun.

Besarnya bunga tidak sama untuk semua nasabah karena Bank Jago menerapkan tingkat bunga berdasarkan jumlah dana yang ditempatkan. Semakin besar nominal deposito, semakin tinggi bunga yang dapat diperoleh.

bunga deposito bank jago
Buka deposito di aplikasi Bank Jago. Sumber foto, Bank Jago

Deposito Jago juga dapat dibuat langsung melalui aplikasi, dengan pilihan tenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Minimum penempatan deposito adalah Rp1 juta.

Artikel ini membahas bunga deposito Bank Jago terbaru, tabel suku bunga berdasarkan nominal, simulasi bunga Rp100 juta, Rp500 juta dan Rp1 miliar, pajak bunga deposito, pencairan sebelum jatuh tempo, serta ketentuan penjaminan LPS.

Bunga Deposito Bank Jago Terbaru 2026

Berdasarkan informasi resmi Bank Jago, suku bunga Deposito Jago efektif per 11 Juli 2026 adalah sebagai berikut.

Jumlah Penempatan 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan
Rp1 juta - Rp99,99 juta 5,00% 5,50% 5,50% 5,50%
Rp100 juta - Rp499,99 juta 5,50% 5,75% 5,75% 5,75%
Rp500 juta - Rp999,99 juta 5,75% 6,00% 6,00% 6,00%
Rp1 miliar ke atas 6,25% 6,25% 6,25% 6,25%

Dengan demikian, bunga deposito Bank Jago tertinggi adalah 6,25% per tahun untuk penempatan mulai Rp1 miliar.

Perlu diperhatikan bahwa angka tersebut merupakan bunga per tahun (p.a.), bukan bunga yang diterima setiap bulan sebesar 6,25% dari modal. Bunga yang benar-benar diterima akan disesuaikan dengan nominal deposito dan lamanya dana ditempatkan.

Apa Itu Spread dalam Forex? Pengertian, Cara Menghitung dan Contohnya

Bagi pemula yang baru belajar trading forex, ada beberapa istilah yang wajib dipahami sebelum membuka posisi. Salah satunya adalah spread.

Spread akan muncul hampir setiap kali trader melakukan transaksi forex. Karena itu, memahami spread penting agar trader tidak salah menghitung keuntungan dan biaya trading.

Lalu, apa itu spread dalam forex?

Secara sederhana, spread adalah selisih antara harga bid dan harga ask pada suatu pasangan mata uang.

Misalnya pada EUR/USD terdapat harga:

  • Bid: 1,1000
  • Ask: 1,1002

Maka spread-nya adalah:
1,1002 - 1,1000 = 0,0002

Jika menggunakan satuan pip, selisih tersebut adalah:
2 pip

Jadi, spread pada contoh tersebut adalah 2 pip.

Bappebti juga menggunakan pengertian spread sebagai rentang atau selisih antara harga bid dan offer. Dalam perdagangan valuta asing, selisih harga beli dan jual menjadi salah satu bagian penting yang perlu dipahami trader.

Pengertian Spread Forex
Pengertian Spread Forex

Apa Itu Spread dalam Forex?

Spread dalam forex adalah selisih antara harga bid dan harga ask pada pasangan mata uang.

Untuk memahami spread, Anda harus mengenal dua istilah terlebih dahulu:

Bid adalah harga yang tersedia ketika posisi dijual.
Ask adalah harga yang tersedia ketika posisi dibeli.

Misalnya:

EUR/USD
Bid = 1,1000
Ask = 1,1002

Maka:
Spread = 1,1002 - 1,1000 = 0,0002

Karena pada EUR/USD satu pip umumnya adalah 0,0001, maka:
Spread = 2 pip

Jadi, kalau ada trader mengatakan:
"Spread EUR/USD saya 2 pip."

Artinya terdapat selisih 2 pip antara harga bid dan ask.

Apa Itu Bid dan Ask dalam Forex?

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita sederhanakan.

Bayangkan Anda berada di sebuah toko.

Ada orang yang bersedia membeli barang dengan harga:
Rp10.000

Sementara ada orang yang bersedia menjual barang dengan harga:
Rp10.100

Selisihnya:
Rp100

Dalam forex, konsepnya mirip.

Ada:
Bid → harga beli dari sisi pasar
dan:
Ask → harga jual dari sisi pasar

Perbedaan antara keduanya disebut:
Spread

Dalam perdagangan valuta asing, semakin tipis perbedaan antara harga bid dan ask, semakin kecil spread. Bappebti juga menjelaskan bahwa pada pasar valuta asing, selisih harga bid dan ask dapat berbeda berdasarkan tingkat akses dan volume transaksi.

Apa Itu Moving Average? Pengertian, Cara Membaca, Rumus dan Contohnya

Bagi pemula yang baru belajar trading saham, Moving Average atau MA merupakan salah satu indikator teknikal yang cukup sering muncul di aplikasi trading.

Bentuknya biasanya berupa garis yang bergerak mengikuti grafik harga saham.

Garis tersebut membantu trader melihat arah pergerakan harga dengan cara yang lebih sederhana. Grafik harga saham terkadang naik turun dengan cepat sehingga sulit dibaca. Moving Average membantu membuat pergerakan tersebut terlihat lebih halus.

Secara sederhana, Moving Average adalah rata-rata harga saham dalam periode tertentu yang terus bergerak mengikuti data harga terbaru.

Pengertian Moving Average
Ilustrasi Moving Average

Misalnya kita menggunakan MA20. Angka 20 berarti perhitungan menggunakan 20 periode terakhir. Pada grafik harian, MA20 berarti rata-rata berdasarkan 20 hari perdagangan terakhir.

OJK memasukkan Moving Average sebagai salah satu metode yang umum digunakan dalam analisis teknikal. Sementara IDX Islamic menjelaskan bahwa periode Moving Average dapat disesuaikan, misalnya 15, 20, 30, 50, 100, hingga 200 hari.

Lalu, bagaimana cara membaca Moving Average?
Apakah harga di atas MA berarti harus beli?
Apakah harga di bawah MA berarti harus jual?

Tidak sesederhana itu.

Artikel ini akan membahas pengertian Moving Average, rumus MA, jenis-jenis Moving Average, MA20, MA50, MA100, MA200, cara membaca MA, crossover, golden cross, death cross, contoh trading, serta kesalahan yang sering dilakukan pemula.

Apa Itu Moving Average?

Moving Average adalah indikator teknikal yang menghitung rata-rata harga saham selama sejumlah periode tertentu dan menghasilkan sebuah garis pada grafik.

Disebut moving atau bergerak karena rata-ratanya terus berubah ketika data harga baru masuk.

Misalnya kita menggunakan MA5.
Artinya kita menghitung rata-rata dari 5 harga terakhir.

Ketika muncul harga baru, data paling lama keluar dari perhitungan dan data terbaru masuk.

Karena itulah garis Moving Average terus bergerak.

Contoh sederhana

Misalnya harga penutupan saham selama 5 hari adalah:

  • Hari 1 = Rp1.000
  • Hari 2 = Rp1.100
  • Hari 3 = Rp1.200
  • Hari 4 = Rp1.100
  • Hari 5 = Rp1.300

Rata-ratanya:
(Rp1.000 + Rp1.100 + Rp1.200 + Rp1.100 + Rp1.300) ÷ 5
= Rp1.140

Jadi, nilai MA5 pada periode tersebut adalah Rp1.140.

Ketika hari berikutnya muncul harga baru, perhitungan akan berubah.

Itulah alasan garis tersebut disebut Moving Average.

Apa Fungsi Moving Average?

Moving Average memiliki beberapa fungsi dalam analisis teknikal.

Yang paling sederhana adalah membantu trader melihat:

  1. arah tren;
  2. posisi harga terhadap rata-rata;
  3. kemungkinan support atau resistance dinamis;
  4. momentum pergerakan;
  5. perubahan tren;
  6. sinyal crossover;
  7. kondisi harga dalam jangka pendek atau panjang.

Namun, MA tidak dirancang untuk memprediksi masa depan secara pasti.

MA menggunakan data harga masa lalu.

Karena itu, sinyal Moving Average biasanya muncul setelah pergerakan harga sudah terjadi.

IDX Islamic juga mengingatkan bahwa Moving Average memiliki kelemahan berupa kemungkinan sinyal yang terlambat atau kurang akurat ketika pasar berubah secara tiba-tiba karena MA menggunakan data harga masa lalu.

Kenapa Moving Average Banyak Digunakan?

Bayangkan grafik saham bergerak seperti ini:
Rp1.000 → Rp1.050 → Rp980 → Rp1.100 → Rp1.020 → Rp1.150

Harga terlihat naik turun.

Jika hanya melihat angka tersebut, pemula mungkin kesulitan menentukan apakah saham sebenarnya sedang naik atau turun.

Moving Average membantu membuat pergerakan tersebut lebih halus.

Misalnya:
Harga bergerak naik
dan
garis MA juga cenderung naik.

Trader mendapatkan gambaran bahwa tren saham sedang mengarah ke atas.

Sebaliknya, jika harga terus berada di bawah MA yang menurun, tren saham bisa sedang melemah.

Rumus Moving Average

Untuk Simple Moving Average (SMA), rumus dasarnya sangat sederhana:

SMA = jumlah harga selama periode ÷ jumlah periode

Misalnya ingin menghitung SMA5:

SMA5 = (Harga 1 + Harga 2 + Harga 3 + Harga 4 + Harga 5) ÷ 5

Contohnya:
Rp1.000 + Rp1.100 + Rp1.200 + Rp1.100 + Rp1.300 = Rp5.700

Kemudian:
Rp5.700 ÷ 5 = Rp1.140

Maka SMA5 = Rp1.140.

Untuk pemula, cukup pahami konsep tersebut terlebih dahulu.

Kamu tidak perlu menghitung MA secara manual setiap hari karena aplikasi trading biasanya sudah menghitungnya secara otomatis.

Apa Itu SMA?

SMA adalah Simple Moving Average.

SMA menghitung rata-rata harga dalam periode tertentu dengan memberikan bobot yang sama kepada setiap data.

Misalnya SMA5 menggunakan lima harga:

  • harga pertama;
  • harga kedua;
  • harga ketiga;
  • harga keempat;
  • harga kelima.

Semua data tersebut memiliki bobot yang sama.

IDX Islamic menjelaskan SMA sebagai Moving Average yang dihitung dengan menjumlahkan harga penutupan dalam rentang waktu tertentu kemudian membaginya dengan jumlah periode tersebut.

SMA merupakan jenis Moving Average yang paling mudah dipahami pemula.

Apa Itu EMA?

EMA adalah Exponential Moving Average.

Berbeda dengan SMA, EMA memberikan bobot lebih besar kepada harga yang lebih baru.

Artinya, EMA biasanya lebih cepat merespons perubahan harga dibandingkan SMA.

Misalnya harga saham tiba-tiba mengalami kenaikan besar.

EMA cenderung merespons perubahan tersebut lebih cepat karena harga terbaru memiliki bobot yang lebih besar.

IDX Islamic menjelaskan bahwa EMA memberikan bobot dan signifikansi lebih besar kepada data harga terbaru.

Karena lebih responsif, EMA banyak digunakan trader yang ingin membaca pergerakan harga yang lebih cepat.

Namun, respons yang lebih cepat juga dapat membuat EMA menghasilkan lebih banyak sinyal ketika pasar bergerak tidak stabil.

Apa Itu WMA?

WMA adalah Weighted Moving Average.

WMA juga memberikan bobot berbeda kepada data harga.

Data terbaru mendapatkan bobot yang lebih besar dibandingkan data lama.

Dengan demikian, WMA lebih responsif dibandingkan SMA.

Secara sederhana:

  • SMA → bobot relatif sama
  • WMA → bobot berbeda
  • EMA → lebih menekankan data terbaru

Ketiga jenis tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu membantu membaca arah pergerakan harga, tetapi cara perhitungannya berbeda.

Perbedaan SMA, EMA dan WMA

Jenis Karakteristik Respons terhadap Harga
SMA Semua data periode diberi bobot sama Lebih lambat
EMA Harga terbaru diberi bobot lebih besar Lebih cepat
WMA Data diberi bobot berbeda Lebih responsif

Untuk pemula, SMA biasanya paling mudah dipahami.

Setelah memahami SMA, barulah belajar EMA dan WMA.

Apa Itu MA20?

MA20 adalah Moving Average yang menggunakan 20 periode.

Jika menggunakan grafik harian, MA20 berarti rata-rata berdasarkan 20 hari perdagangan.

MA20 biasanya digunakan untuk membantu melihat tren jangka pendek.

Misalnya harga saham berada di:
Rp1.000
dan MA20 berada di:
Rp950

Artinya harga saat ini berada di atas rata-rata 20 periodenya.

Jika harga terus bergerak di atas MA20 dan garis MA20 juga naik, kondisi tersebut dapat menunjukkan momentum jangka pendek yang relatif kuat.

Tetapi tetap tidak berarti harga pasti terus naik.

Apa Itu MA50?

MA50 menggunakan 50 periode.

Pada grafik harian, MA50 berarti rata-rata harga selama 50 hari perdagangan.

MA50 sering digunakan untuk melihat tren yang lebih panjang dibandingkan MA20.

Misalnya:

  • harga di atas MA20;
  • harga di atas MA50;
  • MA20 berada di atas MA50.

Kondisi tersebut dapat menunjukkan struktur tren yang relatif bullish.

Namun, trader tetap perlu melihat support, resistance, volume dan kondisi pasar.

Apa Itu MA100?

MA100 menggunakan 100 periode.

MA100 dapat digunakan untuk melihat tren yang lebih panjang.

Semakin besar angka periode MA, semakin halus garisnya.

Tetapi konsekuensinya:
semakin lambat merespons perubahan harga.

Karena itu, MA100 biasanya tidak secepat MA20 dalam memberikan perubahan sinyal.

Apa Itu MA200?

MA200 adalah Moving Average dengan periode 200.

Pada grafik harian, MA200 menggunakan rata-rata harga dari 200 hari perdagangan.

MA200 sering digunakan sebagai referensi untuk melihat tren jangka panjang.

Misalnya harga saham:
Rp2.000
dan MA200:
Rp1.700

Harga berada di atas MA200.

Jika MA200 juga terus bergerak naik, trader mendapatkan gambaran bahwa tren jangka panjang masih relatif kuat.

Sebaliknya, jika harga turun jauh di bawah MA200 dan MA200 mulai menurun, kondisi tersebut menunjukkan pelemahan tren jangka panjang.

Namun, sekali lagi:
MA200 bukan garis sakti yang menjamin harga naik atau turun.

Perbedaan MA20, MA50, MA100 dan MA200

Moving Average Periode Umumnya Digunakan untuk
MA20 20 Tren jangka pendek
MA50 50 Tren menengah
MA100 100 Tren lebih panjang
MA200 200 Tren jangka panjang

Periode tersebut bukan aturan wajib.

Trader dapat menggunakan periode lain sesuai strategi.

IDX Islamic sendiri memberikan contoh periode MA seperti 15, 20, 30, 50, 100 dan 200 hari.

Cara Membaca Moving Average

Cara paling sederhana adalah melihat posisi harga terhadap garis MA.

Harga di atas MA

Jika harga berada di atas MA, artinya harga saat ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada periode tersebut.

Misalnya:
Harga = Rp1.500
MA20 = Rp1.400

Harga berada di atas MA20.

Harga di bawah MA

Misalnya:
Harga = Rp1.200
MA20 = Rp1.400

Harga berada di bawah MA20.

Ini menunjukkan harga saat ini berada di bawah rata-rata 20 periode.

Namun, jangan langsung menganggap:
harga di atas MA = beli
atau:
harga di bawah MA = jual.

MA harus dibaca bersama konteks lainnya.

Cara Membaca Kemiringan Moving Average

Selain posisi harga, perhatikan juga arah garis MA.

MA naik

Jika MA bergerak dari:
Rp1.000 → Rp1.020 → Rp1.050 → Rp1.080

garis MA sedang naik.

Ini menunjukkan rata-rata harga juga bergerak naik.

MA turun

Jika MA bergerak:
Rp1.200 → Rp1.180 → Rp1.150 → Rp1.100

garis MA sedang turun.

Ini menunjukkan rata-rata harga sedang melemah.

MA mendatar

Jika MA bergerak:
Rp1.100 → Rp1.105 → Rp1.102 → Rp1.104

garis relatif datar.

Kondisi tersebut dapat menunjukkan saham sedang mengalami konsolidasi atau sideways.

Moving Average sebagai Support Dinamis

Moving Average terkadang digunakan sebagai support dinamis.

Misalnya harga saham berada dalam tren naik.

Setiap kali harga turun mendekati MA20, harga kembali naik.

Contohnya:
Harga → MA20 → memantul → naik

Jika pola tersebut terjadi beberapa kali, trader dapat memperhatikan MA20 sebagai area support dinamis.

Namun, MA bukan support yang selalu bertahan.

Harga bisa saja menembusnya.

Moving Average sebagai Resistance Dinamis

Hal yang sama dapat terjadi dalam tren turun.

Misalnya harga terus berada di bawah MA50.

Setiap kali harga naik mendekati MA50, harga kembali turun.

MA50 kemudian dapat menjadi resistance dinamis.

Contoh:
Harga naik → menyentuh MA50 → gagal melewati → turun

Kondisi tersebut dapat memberikan informasi tambahan mengenai kekuatan tren turun.

Apa Itu Crossover Moving Average?

Crossover adalah kondisi ketika dua garis Moving Average saling berpotongan.

Contohnya menggunakan:
MA20 dan MA50.

Jika MA20 bergerak dari bawah lalu memotong MA50 ke atas, kondisi tersebut disebut bullish crossover.

Sebaliknya, jika MA20 bergerak dari atas lalu memotong MA50 ke bawah, disebut bearish crossover.

Crossover sering digunakan trader sebagai salah satu sinyal perubahan momentum atau tren.

Namun, sinyal tersebut tetap harus dikonfirmasi dengan kondisi harga.

Apa Itu Golden Cross?

Golden Cross adalah kondisi ketika Moving Average jangka pendek memotong Moving Average jangka panjang dari bawah ke atas.

Contoh populer:
MA50 memotong MA200 dari bawah ke atas.

Secara sederhana:

Sebelum:
MA50 < MA200

Kemudian:
MA50 > MA200

Ini sering dianggap sebagai sinyal bullish jangka menengah hingga panjang.

Tetapi perlu dipahami:
Golden Cross bukan jaminan harga akan naik.

Sinyal tersebut berasal dari data harga masa lalu sehingga bisa muncul setelah sebagian kenaikan harga sudah terjadi.

Contoh Golden Cross

Misalnya:
MA50 = Rp1.000
MA200 = Rp1.050

Kemudian harga saham terus naik.

MA50 ikut naik menjadi:
Rp1.010 → Rp1.030 → Rp1.060

Ketika MA50 akhirnya berada di atas MA200, terjadi golden cross.

Trader kemudian dapat melihat:

  • apakah harga juga berada di atas kedua MA;
  • apakah volume mendukung;
  • apakah resistance berhasil ditembus;
  • apakah tren utama naik.

Dengan demikian, golden cross tidak dibaca sendirian.

Apa Itu Death Cross?

Death Cross adalah kebalikan dari Golden Cross.

Kondisi ini terjadi ketika Moving Average jangka pendek memotong Moving Average jangka panjang dari atas ke bawah.

Contoh:
MA50 memotong MA200 dari atas ke bawah.

Secara sederhana:

Sebelum:
MA50 > MA200

Kemudian:
MA50 < MA200

Death Cross sering dianggap sebagai tanda pelemahan tren.

Tetapi sama seperti Golden Cross:
Death Cross bukan jaminan harga pasti turun.

Sinyal dapat terlambat karena Moving Average menggunakan data historis.

Golden Cross vs Death Cross

Kondisi Perpotongan Interpretasi Umum
Golden Cross MA pendek memotong MA panjang ke atas Bullish
Death Cross MA pendek memotong MA panjang ke bawah Bearish

Keduanya sebaiknya digunakan sebagai informasi tambahan, bukan satu-satunya dasar mengambil keputusan.

Moving Average untuk Menentukan Entry

Trader dapat menggunakan MA sebagai salah satu alat untuk mencari area entry.

Contohnya:

  1. Saham sedang uptrend.
  2. Harga berada di atas MA20.
  3. Harga mengalami koreksi.
  4. Harga mendekati MA20.
  5. Muncul candlestick bullish.
  6. Volume meningkat.
  7. Harga kembali bergerak naik.

Trader kemudian dapat menunggu konfirmasi sebelum mengambil posisi.

Ini bukan aturan wajib.

Tujuannya hanya memberikan contoh bagaimana MA dapat digabungkan dengan indikator lain.

Moving Average untuk Menentukan Exit

MA juga dapat membantu menentukan kapan trader perlu mengevaluasi posisi.

Misalnya trader membeli saham ketika harga berada di atas MA20.

Kemudian harga turun dan menembus MA20.

Trader dapat menggunakan kondisi tersebut sebagai alasan untuk mengevaluasi:

  • apakah tren berubah;
  • apakah support jebol;
  • apakah volume meningkat;
  • apakah stop loss terkena;
  • apakah trading plan masih berlaku.

Jadi, MA bukan berarti:
“Begitu harga menyentuh MA, langsung jual.”

Tetapi:
“Pergerakan terhadap MA memberikan informasi tambahan untuk mengevaluasi posisi.”

Contoh Trading Menggunakan MA20

Misalnya saham XYZ:
Harga = Rp1.000
MA20 = Rp950

Harga sedang naik.

Kemudian harga mengalami koreksi:
Rp1.000 → Rp980 → Rp960

MA20 berada di sekitar Rp950.

Harga mendekati MA20 tetapi belum menembusnya.

Kemudian muncul candlestick bullish dan harga kembali naik menjadi:
Rp980 → Rp1.020

Trader dapat melihat MA20 sebagai salah satu referensi dalam membaca tren.

Namun entry tetap harus mempertimbangkan:

  • resistance;
  • volume;
  • risiko;
  • stop loss;
  • kondisi pasar.

Contoh Trading Menggunakan MA50

Misalnya:
Harga = Rp2.000
MA50 = Rp1.800

MA50 sedang naik.

Kemudian harga turun ke Rp1.850.

Harga masih berada di atas MA50.

Trader dapat melihat apakah area tersebut menjadi support dinamis.

Jika harga memantul:
Rp1.850 → Rp1.950 → Rp2.050

MA50 dapat menjadi salah satu bagian dari analisis.

Tetapi jika harga justru jatuh:
Rp1.850 → Rp1.700

dan MA50 ditembus, trader perlu melakukan evaluasi.

Pengertian Volume Saham
Pengertian Volume Saham

Menggabungkan Moving Average dengan Volume

MA menjadi lebih berguna ketika dikombinasikan dengan volume.

Misalnya:
Harga berada di atas MA50.
Kemudian harga menembus resistance.
Pada saat yang sama, volume meningkat.

Ada tiga informasi yang sedang terjadi:

  1. harga berada di atas MA;
  2. resistance ditembus;
  3. volume meningkat.

Kombinasi tersebut lebih informatif daripada hanya melihat:
“harga berada di atas MA.”

Namun, tetap tidak menjamin breakout berhasil.

Menggabungkan Moving Average dengan Support dan Resistance

Contohnya:
Support = Rp1.000
MA20 = Rp1.020

Harga turun ke area:
Rp1.020 → Rp1.000

Kemudian harga memantul.

Di sini terdapat dua informasi yang berdekatan:
MA20
dan
support horizontal.

Jika harga kemudian naik kembali, trader mendapatkan konfirmasi tambahan.

Tetapi jika support Rp1.000 ditembus dengan tekanan jual besar, trader perlu berhati-hati.

Pengertian Support dan Resistance Saham
Pengertian Support dan Resistance pada saham

Moving Average dan Candlestick

MA juga dapat dikombinasikan dengan candlestick.

Misalnya harga turun mendekati MA50.

Kemudian muncul:
Hammer
atau candlestick bullish lainnya.

Jika volume juga meningkat, trader mendapatkan beberapa informasi sekaligus.

Namun, tetap diperlukan trading plan.

Jangan hanya membeli karena melihat satu candlestick di dekat Moving Average.

Moving Average untuk Day Trading

Day trader dapat menggunakan MA dengan periode lebih pendek.

Misalnya:

  • MA5;
  • MA9;
  • MA20;
  • MA50.

Pada timeframe intraday, Moving Average dapat membantu melihat arah pergerakan harga dalam jangka pendek.

Namun, MA pendek juga lebih sensitif terhadap perubahan harga.

Akibatnya, sinyal palsu dapat lebih sering muncul ketika pasar bergerak sideways.

Moving Average untuk Swing Trading

Swing trader biasanya dapat menggunakan MA dengan periode yang lebih panjang.

Contohnya:

  • MA20;
  • MA50;
  • MA100.

Trader dapat menggunakan MA untuk:

  • melihat tren;
  • mencari pullback;
  • mengidentifikasi support dinamis;
  • melihat perubahan momentum.

Sekali lagi, periode MA bukan aturan tetap.

Moving Average untuk Investor Jangka Panjang

Investor jangka panjang juga dapat menggunakan Moving Average sebagai informasi tambahan.

Misalnya:
MA200
dapat digunakan untuk melihat tren jangka panjang.

Jika harga jauh di atas MA200 dan MA200 terus naik, tren jangka panjang dapat terlihat lebih kuat.

Jika harga jauh di bawah MA200 dan MA200 turun, tren jangka panjang sedang melemah.

Namun, investor jangka panjang tetap sebaiknya memperhatikan fundamental perusahaan.

Moving Average tidak bisa menjawab pertanyaan seperti:

  • Apakah laba perusahaan tumbuh?
  • Apakah utangnya sehat?
  • Apakah bisnisnya bagus?
  • Apakah valuasinya murah?
  • Apakah prospek industrinya menarik?

Pertanyaan tersebut membutuhkan analisis fundamental.

Berapa Periode Moving Average yang Sebaiknya Digunakan?

Tidak ada satu periode yang paling benar untuk semua trader.

Beberapa periode yang umum digunakan antara lain:

MA20 — Untuk melihat pergerakan yang relatif pendek.

MA50 — Untuk melihat tren menengah.

MA100 — Untuk tren yang lebih panjang.

MA200 — Untuk melihat tren jangka panjang.

IDX Islamic juga menyebut periode seperti 15, 20, 30, 50, 100 dan 200 sebagai contoh periode Moving Average.

Yang paling penting bukan mencari angka yang “paling sakti”.

Yang penting adalah memahami:
mengapa kamu menggunakan periode tersebut.

Jangan Menggunakan Terlalu Banyak Moving Average

Kesalahan pemula adalah memasukkan terlalu banyak garis.

Misalnya:

  • MA5;
  • MA10;
  • MA20;
  • MA30;
  • MA50;
  • MA100;
  • MA200.

Grafik akhirnya penuh garis.

Pemula malah bingung:
“Saya harus mengikuti garis yang mana?”

Lebih baik mulai dengan satu atau dua Moving Average.

Misalnya:
MA20 + MA50
atau:
MA50 + MA200

Setelah memahami cara kerjanya, baru bereksperimen dengan periode lain.

Kelebihan Moving Average

Moving Average memiliki beberapa kelebihan.

  1. Mudah dipahami
    Bentuknya hanya berupa garis di atas grafik.
  2. Membantu melihat tren
    Trader dapat melihat apakah garis MA naik, turun atau datar.
  3. Mengurangi noise harga
    Pergerakan harga yang terlalu berisik menjadi lebih halus.
  4. Bisa digunakan pada berbagai timeframe
    MA dapat digunakan untuk intraday, swing trading, dan investasi.
  5. Bisa dikombinasikan dengan indikator lain
    Misalnya volume, RSI, MACD, support, resistance, dan candlestick.

Kekurangan Moving Average

MA juga memiliki kelemahan.

  1. Sinyalnya bisa terlambat
    Karena menggunakan data historis.
  2. Tidak selalu akurat
    Terutama ketika pasar bergerak sideways.
  3. Bisa menghasilkan false signal
    Harga bisa berkali-kali memotong MA tanpa membentuk tren yang jelas.
  4. Tidak cocok digunakan sendirian
    MA sebaiknya menjadi salah satu alat analisis, bukan satu-satunya dasar keputusan.

IDX Islamic secara khusus mencatat bahwa sinyal MA dapat terlambat atau kurang akurat saat pasar berubah tiba-tiba karena indikator tersebut menggunakan data harga masa lalu.

Moving Average Saat Pasar Sideways

Kondisi sideways adalah salah satu situasi yang membuat MA kurang nyaman digunakan.

Misalnya harga bergerak:
Rp1.000 → Rp1.050 → Rp1.020 → Rp1.060 → Rp1.010 → Rp1.040

Harga bolak-balik.

MA juga bisa:
naik → turun → naik → turun.

Harga berkali-kali memotong garis MA.

Trader yang mengikuti setiap crossover bisa mendapatkan banyak sinyal palsu.

Karena itu, sebelum menggunakan MA, lihat terlebih dahulu apakah saham sedang:
uptrend, downtrend, atau sideways.

Moving Average Tidak Sama dengan Harga Rata-Rata Beli

Ini juga penting.

Jika kamu membeli saham pada beberapa harga berbeda, kamu memiliki harga rata-rata pembelian.

Sedangkan Moving Average adalah rata-rata harga pasar selama sejumlah periode tertentu.

Keduanya berbeda.

Misalnya kamu membeli:
100 saham pada Rp1.000
dan
100 saham pada Rp1.200.

Harga rata-rata pembelianmu:
Rp1.100

Sedangkan MA20 dihitung berdasarkan harga saham selama 20 periode.

Jadi jangan menyamakan:
Average Buy
dengan
Moving Average.

Moving Average dan Risiko Trading

MA dapat membantu menentukan arah tren.

Tetapi MA tidak menghilangkan risiko.

Misalnya kamu membeli karena golden cross.

Ternyata beberapa hari kemudian pasar jatuh.

Harga saham ikut turun.

Golden cross yang sebelumnya terlihat bullish tidak dapat melindungi modalmu.

Karena itu, trader tetap membutuhkan:

  • stop loss;
  • position sizing;
  • risk-reward ratio;
  • manajemen modal;
  • trading plan.

Moving Average adalah alat bantu.
Manajemen risiko tetap menjadi perlindungan modal.

Cara Menggunakan Moving Average untuk Pemula

Jika baru belajar, gunakan langkah sederhana berikut.

  1. Buka grafik saham — Gunakan candlestick.
  2. Tambahkan MA20 — Mulai dari satu indikator sederhana.
  3. Lihat posisi harga — Apakah harga berada di atas atau di bawah MA20?
  4. Lihat arah MA — Apakah garis MA naik, turun atau datar?
  5. Cari support dan resistance — Jangan hanya melihat MA.
  6. Periksa volume — Apakah ada peningkatan volume ketika harga bergerak?
  7. Tunggu konfirmasi — Gunakan candlestick atau price action.
  8. Tentukan risiko — Sebelum membeli, tentukan di mana stop loss berada.
  9. Tentukan target — Buat target keuntungan yang realistis sesuai trading plan.

Strategi Sederhana MA20 + MA50

Untuk pemula, contoh sederhana yang dapat dipelajari adalah menggunakan:
MA20 + MA50.

Perhatikan:

Kondisi bullish
MA20 berada di atas MA50.
Harga juga berada di atas keduanya.
MA20 dan MA50 cenderung naik.

Kondisi bearish
MA20 berada di bawah MA50.
Harga berada di bawah keduanya.
MA20 dan MA50 cenderung turun.

Kondisi sideways
MA20 dan MA50 sering saling berpotongan.
Harga bolak-balik di sekitar kedua garis.

Kondisi seperti ini membutuhkan kehati-hatian lebih besar.

Sekali lagi, ini adalah kerangka belajar, bukan aturan otomatis untuk membeli atau menjual saham.

Contoh Strategi MA20 + MA50

Misalnya saham XYZ:
MA20 = Rp1.100
MA50 = Rp1.050
Harga = Rp1.150

Artinya:
Harga > MA20 > MA50

Struktur tersebut menunjukkan harga berada di atas dua rata-rata.

Kemudian harga turun ke Rp1.110.

Harga masih di atas MA20.

Trader dapat mengamati apakah terjadi pantulan.

Jika muncul candlestick bullish dan volume meningkat, trader mendapatkan konfirmasi tambahan.

Tetapi jika harga justru jatuh di bawah MA20 dan kemudian MA20 mulai turun, trader perlu mengevaluasi kembali skenarionya.

Apakah Harga di Atas MA Berarti Harus Beli?

Tidak.

Ini salah satu hal terpenting yang harus dipahami pemula.

Harga di atas MA hanya menunjukkan posisi harga terhadap rata-rata.

Contohnya:
Harga = Rp5.000
MA20 = Rp4.000

Harga berada 25% di atas MA20.

Harga mungkin saja sudah naik terlalu cepat.

Jika kemudian muncul resistance kuat, risiko koreksi tetap ada.

Jadi jangan menggunakan aturan:
Harga > MA = beli.

Gunakan MA sebagai bagian dari analisis yang lebih lengkap.

Apakah Harga di Bawah MA Berarti Harus Jual?

Tidak selalu.

Harga di bawah MA dapat menunjukkan kelemahan relatif terhadap rata-rata.

Tetapi trader harus melihat:

  • support;
  • volume;
  • tren;
  • timeframe;
  • fundamental;
  • trading plan.

Investor jangka panjang bahkan mungkin tetap memegang saham meskipun harga berada di bawah MA tertentu jika alasan fundamental investasinya masih kuat.

Moving Average dan Analisis Teknikal

Moving Average merupakan bagian dari analisis teknikal.

OJK menjelaskan bahwa analisis teknikal menggunakan data historis seperti harga dan volume perdagangan untuk membantu menganalisis pergerakan harga, termasuk kemungkinan continuation atau reversal.

Karena itu, MA sebaiknya dipahami sebagai salah satu alat dalam sebuah sistem analisis.

Bukan sebagai alat yang mampu mengetahui masa depan.

Kesimpulan

Apa itu Moving Average?

Moving Average adalah indikator teknikal yang menghitung rata-rata harga saham selama periode tertentu dan menampilkannya dalam bentuk garis pada grafik.

Jenis Moving Average yang umum dikenal antara lain:

  • SMA (Simple Moving Average)
  • EMA (Exponential Moving Average)
  • WMA (Weighted Moving Average)

Beberapa periode yang sering digunakan adalah:

  • MA20
  • MA50
  • MA100
  • MA200

Semakin kecil periodenya, MA biasanya semakin cepat merespons perubahan harga.

Semakin besar periodenya, garis MA biasanya semakin halus dan lebih lambat merespons perubahan.

Moving Average dapat membantu trader:

  • melihat tren;
  • melihat posisi harga;
  • mencari support atau resistance dinamis;
  • membaca crossover;
  • mengamati golden cross;
  • mengamati death cross;
  • mengonfirmasi pergerakan harga.

Tetapi ada satu hal yang harus selalu diingat:
Moving Average menggunakan data masa lalu.

Karena itu, MA bisa terlambat memberikan sinyal dan tidak selalu akurat, terutama ketika pasar berubah cepat atau bergerak sideways.

Untuk pemula, jangan menggunakan Moving Average sendirian.

Gabungkan dengan:
harga + candlestick + volume + support/resistance + manajemen risiko.

Dengan cara tersebut, Moving Average menjadi alat bantu yang lebih berguna untuk memahami arah pergerakan saham.

cara membeli saham bbca
Ilustrasi: Melakukan analisis sebelum membeli saham BBCA. Dokumentasi Kuhuni.com

FAQ Moving Average

Apa itu Moving Average dalam saham?

Moving Average adalah indikator teknikal yang menunjukkan rata-rata harga saham dalam sejumlah periode tertentu dan bergerak mengikuti data harga terbaru.

Apa fungsi Moving Average?

Moving Average digunakan untuk membantu melihat tren, momentum, posisi harga terhadap rata-rata, serta kemungkinan support dan resistance dinamis.

Apa itu MA20?

MA20 adalah Moving Average yang menggunakan 20 periode. Pada grafik harian, MA20 menggunakan data 20 hari perdagangan.

Apa itu MA50?

MA50 adalah Moving Average dengan periode 50. Pada grafik harian, MA50 menggunakan data 50 hari perdagangan.

Apa itu MA200?

MA200 adalah Moving Average dengan periode 200. MA200 sering digunakan untuk melihat tren jangka panjang.

Apa perbedaan SMA dan EMA?

SMA memberikan bobot yang sama terhadap data dalam periode perhitungannya, sedangkan EMA memberikan bobot lebih besar terhadap harga terbaru.

Apa itu Golden Cross?

Golden Cross adalah kondisi ketika Moving Average jangka pendek memotong Moving Average jangka panjang dari bawah ke atas. Contoh yang populer adalah MA50 memotong MA200 ke atas.

Apa itu Death Cross?

Death Cross adalah kondisi ketika Moving Average jangka pendek memotong Moving Average jangka panjang dari atas ke bawah.

Apakah Moving Average bisa digunakan untuk menentukan kapan membeli saham?

Bisa digunakan sebagai salah satu alat bantu, tetapi tidak sebaiknya digunakan sendirian. Trader perlu mempertimbangkan tren, volume, support, resistance, candlestick dan manajemen risiko.

Apakah Moving Average bisa memprediksi harga saham?

Tidak secara pasti. Moving Average menggunakan data historis sehingga sinyalnya dapat terlambat dan tidak selalu akurat.

Moving Average berapa yang bagus untuk pemula?

Tidak ada satu periode yang paling bagus untuk semua orang. Pemula dapat mulai mempelajari MA20 atau MA50 sebelum mencoba kombinasi periode lainnya.


Serial Belajar Saham:

  1. Apa Itu Trading? Pengertian Trading untuk Pemula
  2. Apa Itu Trading Saham? Pengertian, Cara Kerja dan Contohnya untuk Pemula
  3. 20 Istilah Penting Dalam Saham yang Wajib Diketahui Pemula
  4. Panduan Lengkap Investasi Saham untuk Pemula
  5. Cara Trading Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  6. Cara Main Saham Modal Kecil: Mulai Rp100 Ribu, Rp500 Ribu, atau Rp1 Juta
  7. 25 Aplikasi Trading Terpercaya dan Resmi di Indonesia yang Terdaftar OJK dan BEI
  8. Daftar Kode Broker Asing dan Lokal di Indonesia: Resmi Terdaftar di BEI dan OJK
  9. 12 Teknik Scalping Saham Paling Efektif untuk Dapat Cuan
  10. Analisis Teknikal untuk Pemula: Cara Membaca Grafik Saham dari Nol
  11. Cara Membaca Grafik Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  12. Apa Itu Support dan Resistance? Pengertian, Cara Menentukan dan Contohnya
  13. Cara Membaca Candlestick Saham: Panduan Lengkap untuk Pemula
  14. Apa Itu Volume Saham? Pengertian, Cara Membaca dan Contohnya
  15. Apa Itu Moving Average? Pengertian, Cara Membaca, Rumus dan Contohnya
  16. Apa Itu RSI? Pengertian, Cara Membaca dan Menggunakan RSI Saham

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan  rekomendasi atau perintah jual atau beli saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi kuhuni.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

Bunga Deposito SeaBank Terbaru hingga 6%: Simulasi Rp100 Juta, Rp500 Juta dan Rp1 Miliar

Bunga deposito SeaBank menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin mendapatkan imbal hasil dari dana yang disimpan untuk jangka waktu tertentu. SeaBank menawarkan deposito berjangka dalam mata uang Rupiah dengan pilihan tenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan.

Berdasarkan Ringkasan Informasi Produk dan Layanan SeaBank (RIPLAY) yang berlaku mulai 1 Agustus 2026, suku bunga deposito SeaBank mencapai 6,00% per tahun untuk tenor 12 bulan.

SeaBank juga menetapkan minimum penempatan deposito sebesar Rp1 juta. Deposito dapat dibuka melalui aplikasi SeaBank dan nasabah dapat memilih instruksi saat jatuh tempo, yaitu tidak diperpanjang, perpanjangan otomatis pokok, atau perpanjangan otomatis pokok dan bunga.

Artikel ini membahas secara lengkap bunga deposito SeaBank terbaru 2026, simulasi deposito Rp100 juta, Rp500 juta dan Rp1 miliar, cara menghitung bunga, pajak deposito, pencairan sebelum jatuh tempo, ARO, jaminan LPS, biaya, syarat pembukaan, serta berbagai risiko yang perlu diketahui sebelum menempatkan dana.

Seabank
Bunga Deposito Seabank. Foto oleh Seabank

Bunga Deposito SeaBank Terbaru

Berdasarkan RIPLAY Deposito Berjangka SeaBank yang diterbitkan dengan tanggal cetak 1 Agustus 2026, suku bunga deposito yang ditawarkan adalah sebagai berikut:

Jangka Waktu Suku Bunga per Tahun
1 Bulan 4,75%
3 Bulan 5,25%
6 Bulan 5,75%
12 Bulan 6,00%

Suku bunga tersebut dinyatakan sebagai bunga per tahun atau per annum (p.a.). SeaBank menyatakan bahwa suku bunga dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan bank.

Karena itu, angka 6,00% tidak berarti nasabah mendapatkan bunga 6% setiap bulan. Bunga 6,00% merupakan tingkat bunga tahunan yang kemudian dihitung berdasarkan jumlah hari dana ditempatkan.

Apa Itu Volume Saham? Pengertian, Cara Membaca dan Contohnya

Bagi pemula yang baru belajar membaca grafik saham, istilah volume saham mungkin terlihat membingungkan.

Di dalam aplikasi trading, selain melihat harga saham, biasanya kita juga akan menemukan grafik berupa batang-batang yang bergerak naik dan turun. Grafik tersebut umumnya menunjukkan volume perdagangan saham.

Sederhananya, volume saham adalah jumlah saham yang diperdagangkan dalam periode tertentu.

Volume dapat membantu trader melihat apakah sebuah saham sedang ramai diperdagangkan atau justru sepi. Dalam analisis teknikal, volume digunakan bersama data harga untuk membantu membaca kekuatan pergerakan saham. OJK menjelaskan bahwa analisis teknikal menggunakan data historis seperti harga saham dan volume perdagangan untuk menganalisis kemungkinan kelanjutan atau pembalikan arah harga.

Lalu, bagaimana cara membaca volume saham?
Apakah volume besar berarti harga akan naik?
Apakah volume kecil berarti saham tidak bagus?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Artikel ini akan membahas pengertian volume saham, cara membaca volume perdagangan, hubungan volume dengan harga, volume besar dan kecil, volume breakout, volume saat harga naik atau turun, serta contoh volume saham untuk pemula.

Pengertian Volume Saham
Pengertian Volume Saham

Apa Itu Volume Saham?

Volume saham adalah jumlah saham yang berpindah tangan atau diperdagangkan dalam periode tertentu.

Periode tersebut bisa berupa:

  • 1 menit;
  • 5 menit;
  • 15 menit;
  • 1 jam;
  • 1 hari;
  • 1 minggu;
  • 1 bulan.

Tergantung timeframe grafik yang digunakan.

Dividen BMRI dari Tahun ke Tahun: Riwayat, Pertumbuhan, dan Dividend Yield Bank Mandiri

Dividen BMRI dari tahun ke tahun menjadi salah satu informasi penting bagi investor yang ingin memiliki saham Bank Mandiri (BMRI) dalam jangka panjang.

Alasannya sederhana.

Ketika seseorang membeli saham BMRI, keuntungan yang didapat bukan hanya dari kenaikan harga saham. Investor juga bisa mendapatkan dividen, yaitu pembagian sebagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham.

dividen bmri dari tahun ke tahun
Ilustrasi pertumbuhan dividen BMRI dari tahun ke tahun

Pertanyaannya, apakah dividen BMRI terus naik setiap tahun?

Jawabannya tidak selalu.

Data historis menunjukkan dividen BMRI mengalami kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun. Namun, dalam jangka panjang, nilai dividen per saham menunjukkan kecenderungan meningkat.

Bahkan berdasarkan data di bawah, dividen BMRI tahun 2026 mencapai sekitar Rp542,96 per saham, lebih tinggi dibandingkan Rp466,18 per saham pada 2025.

Apa Itu Pip dalam Forex? Pengertian, Cara Menghitung dan Contohnya

Kalau Anda baru belajar trading forex, ada beberapa istilah dasar yang wajib dipahami. Salah satunya adalah pip.

Istilah pip akan sering muncul ketika Anda membaca pergerakan harga, menghitung keuntungan, menghitung kerugian, menentukan stop loss, sampai membuat trading plan.

Lalu, apa itu pip dalam forex?

Pip adalah satuan yang digunakan untuk mengukur perubahan harga dalam pasangan mata uang atau currency pair.

Misalnya harga EUR/USD bergerak dari 1,1000 menjadi 1,1001.

Harga tersebut naik sebesar 1 pip.

Begitu juga jika EUR/USD bergerak dari 1,1000 menjadi 1,1050, berarti harga bergerak sebanyak 50 pip.

Dalam aturan perdagangan berjangka Indonesia, istilah poin pada perdagangan kontrak mata uang atau forex biasa disebut sebagai PIP. Bappebti juga menjelaskan bahwa perubahan harga yang kecil dalam perdagangan berjangka dapat memberikan dampak keuntungan atau kerugian yang besar karena adanya leverage.

Karena itu, memahami pip sangat penting sebelum Anda mulai trading forex.

Arti Pip Forex
Arti Pip Forex

Apa Itu Pip dalam Forex?

Pip adalah satuan untuk mengukur perubahan harga pada pasangan mata uang dalam trading forex.

Pip bukan uang.

Pip adalah satuan perubahan harga.

Misalnya:

EUR/USD = 1,1000

Kemudian berubah menjadi:

EUR/USD = 1,1001

Perubahannya:

1,1001 - 1,1000 = 0,0001

Perubahan sebesar 0,0001 tersebut disebut 1 pip untuk pasangan seperti EUR/USD.

Jadi, jika seorang trader mengatakan:

"Saya mendapatkan profit 50 pip."

Artinya harga bergerak sesuai posisi trader sebesar 50 pip.

Tetapi 50 pip tidak selalu berarti keuntungan Rp50.000, Rp500.000 atau jumlah uang tertentu.

Nilai uang dari 50 pip bergantung pada beberapa hal, terutama ukuran posisi atau lot dan pasangan mata uang yang diperdagangkan.

Inilah bagian yang penting dipahami oleh trader pemula.

Terbaru

      Konten Pilihan